Profile

Saksofonis era sekarang: Kamasi Washington

Salah satu musisi jazz hebat yang memainkan saksofon di era ini Kamasi Washington, yang lahir pada 18 Februari 1981, di Los Angeles, California, AS.

Dia lulusan SMA Alexander Hamilton, di LA, selanjutnya dia mendaftar di Departemen Etnomusikologi UCLA, di mana Washington bermain dengan anggota fakultas seperti: Kenny Burrel, Gerald Wilson, dan Billy Higgins yang membimbing kuartet Washington, pianis Cameron Graves, dan saudara-saudara Stephen (“Thundercat”) dan Ronald Bruner.

Mereka merilis album debut , “Young Jazz Giant” pada tahun 2004 di Birdman Records.

Washington bergabung dengan Gerald Wilson Orchestra untuk albumnya, “In My Time” (2005). Ia memainkan saksofon di, “To Pimp a Butterfly” karya Kendrick Lamar.

Dibalut dengan melodi-melodi indah yang keluar dari saksofonnya, ia hendak menyatakan bahwa jazz bisa menyuntikkan optimisme di tengah hidup yang tak baik-baik saja.

Debut rekaman solonya, “The Epic” dirilis pada Mei 2015. Mini album/EP, “Harmony of Difference” diikuti pada September 2017. Album studio berdurasi penuh keduanya, “Heaven and Earth” dikeluarkan pada Juni 2018, dengan album/EP pendamping berjudul, “The Choice” yang dirilis seminggu kemudian.

Washington telah bermain bersama dengan beragam kelompok musisi: Wayne Shorter, Herbie Hancock, Horace Tapscott, Lauryn Hill, Nas, Snoop Dogg, George Duke, Chaka Khan, Flying Lotus, Mike Muir, Francisco Aguabella, St. Vincent, Orkestra Rakyat Pan Afrikaan dan Raphael Saddiq.

Pada 24 Juni 2020, Washington, Terrence Martin, Robert Glasper, dan 9th Wonder mengumumkan pembentukan super grup Dinner Party. Kelompok ini merilis single, “Freeze Tag” dan album mini debut mereka, “Dinner Party” pada 10 Juli 2020.

Pada 18 Juni 2021, Washington merilis lagu baru, “Sun Kissed Child” sebagai bagian dari seri The Undefeated’s Music for the Movement.

Dia ditampilkan dalam episode terakhir serial “Homeland” berperan sebagai dirinya sendiri, yang melakukan pertunjukkan langsung di mana Carrie Mathison berada di antara penonton.

Deretan penghargaan dan nominasi yang telah Washington diantaranya adalah di Kompetisi Musik John Coltrane (1999), Worldwide Winner “Album of the Year” (2015), NAACP Image Awards “Outstanding Jazz Album” untuk album, “The Epic” (2015), Libera Awards “Album of the Year”, “Best Breakthrough Artist”, “Groundbreaking Album of the Year” dan “Heritage Album of The Year” (2016) juga untuk album, “The Epic”, UK Music Video Awards “Best Urban Video International” (2018) untuk “Street Fighter Mas”, Libera Awards “Best Jazz Album” untuk album, “Harmony of Difference”, Worldwide Winners “Jazz Album of the Year”, “Best Jazz Album”, “Creative Packaging” dan “Video of The Year” (2019) untuk album, “Heaven and Earth”, Primetime Emmy Awards “Outstanding Music Composition for a Documentary Series or Special (Original Dramatic Score) untuk, “Becoming”, Libera Awards “Best Sync Usage” untuk Music in Apple Shot on iPhone XS commercial, dan Grammy Awards “Best Score Soundtrack for Visual Media” untuk, “Becoming”.

Kiprah Kamasi Washington terus berlanjut. Album kedua, “Heaven and Earth” (2018), ia bikin sama ambisiusnya seperti album pertama.

Direkam hanya dalam tempo dua pekan, Washington ingin menciptakan realitas baru yang disusun dari pertautan antara konsep Earth (dunia yang sedang dijalani) dan Heaven (semesta baru yang bakal dituju).

“Dunia bukanlah apa yang diinginkan para pemimpin dunia itu” ungkapnya pada The Guardian, “Dunia adalah tentang apa yang kita semua inginkan. Ketika orang-orang diluar sana tidak punya kekuatan, maka kita mengulurkan tangan untuk memberi kekuatan. Apabila kita semua punya mentalitas itu, maka perubahan yang benar bisa terjadi”.

Sepasang album Washington, yang dua-duanya mendapat respon apik dari para kritikus musik, adalah bukti bahwa jazz juga berbicara tentang sikap maupun prinsip untuk mengubah realitas. Dibalut dengan melodi-melodi indah yang keluar dari saksofonnya, ia hendak menyatakan bahwa jazz bisa menyuntikkan optimisme di tengah hidup yang tak baik-baik saja.

Bagi Kamasi Washington, jazz lebih dari sekedar musik dan dia sangat paham bagaimana mengolahnya jadi ragam baru yang menyegarkan. Jazz, dalam versi dia adalah soal keberagaman. Ia menolak tunduk pada pakem baku yang mengharuskan jazz bergerak seperti ini dan itu. Maka, yang terjadi setelahnya ialah perpaduan. Ia tak ragu memasukkan unsur-unsur lain seperti gospel, hip hop, funk, fusion, dan aroma psikedelik 1960-an demi menghasilkan ramuan jazz yang mempesona.

Musikalitas ala John Coltrane ia jadikan pijakan, yang kemudian ia gabungkan dengan harmoni-harmoni ciptaan: Pharoah Sanders maupun Sun Ra yang membuai telinga.

Karya-karyanya menyimpan semua kondisi itu sejak album, “The Epic” mencuat ke khalayak hingga yang terbaru, “Heaven and Earth” dilepas dan mendatangkan banyak pujian, komposisi yang dihasilkan Washington selalu mempresentasikan bentuk sinergi antar-instrumen di dalamnya.

Saksofon-nya hanya bertindak sebagai pengatur. Ia tidak egois dan menyediakan ruang bagi instrumen lain untuk ambil bagian sehingga tercipta kesatuan. Ia melakukan itu karena Washington sadar bahwa selama ini publik salah menilai tentang jazz yang sering didefinisikan sebagai “musik yang tak acuh”.

Sebagaimana musik pada umumnya, jazz juga adalah soal koneksi antara sesama musisi, pendengar, dan lingkungan di sekitar. Untuk mencapai tujuan tersebut jazz, seperti katanya harus terus mengikuti zaman yang senantiasa menggelinding. Rasanya, selama ia masih memainkan saksofon-nya, jazz belumlah sekarat apalagi mati.

Ahmad Jailani

Menyukai jazz sejak masih di SMP. Wiraswastawan yang mulai membentuk komunitas Balikpapan Jazz Lovers pada 2008 ini juga kerap menulis artikel jazz di koran-koran lokal di Balikpapan dan sejak 2009 rutin menulis tentang jazz di akun facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker