Review

PIG (Pra, Indra, Gilang) – Lost Forest

pig-lostforestPart 1 – Part 12 (72:01′)
Pra B Dharma : Electric Fretless Bass
Indra Lesmana : Synthesizer
Gilang Ramadhan : Percussion

Lost Forest, merupakan proyek yang dikerjakan oleh para personel yang pernah tergabung dalam grup Krakatau , yaitu, Pra, indra dan gilang dengan nama PIG. Dari proyek musik ini kalau kita mengira atau mengharapkan akan mendengar gaya musik seperti Krakatau atau seperti solo albumnya Indra, akan keliru sekali, karena musik yang mereka mainkan dalam PIG ini sangat berlainan sekali dan mungkin bisa dikatakan musik yang mereka mainkan dalam album ini merupakan cerminan dari idealisme musikal mereka.

Album yang mengambil tema Lost Forest ini terbagi dalam 12 bagian dari part 1 sampai part 12 dan dibuat dalam bentuk semacam suita, dimana dari bagian perbagian saling berhubungan dengan mengacu pada satu tema sentral yaitu Lost Forest atau dalam bahasa indonesianya Hutan Yang Hilang.

Walaupun mereka pada dasarnya adalah para musisi jazz, tapi musik yang mereka mainkan dalam album ini tidak hanya mengusung warna jazz saja, tetapi mereka memadukannya dengan musik lain seperti new age, psychedelic, ambient, free jazz bahkan warna progresiv rock pun akan terdengar. Mungkin bisa dikatakan musik yang mereka mainkan adalah musik improvisasi atau Improvised Music. Dan tampaknya mereka sedang melakukan eksperimental dengan album ini , sehingga pendengarnya juga diajak untuk menginterpretasikan musik mereka sesuai dengan kesan yang didengar oleh pendengar tersebut, yang tentu saja masih mengacu pada tema Lost Forest tersebut. Seperti misalnya pada part 1 dan part 2, dimana warna new age sangat terasa dan kita seolah-olah dibawa dalam suasana hutan yang sunyi dan misterius, atau pada part 4 , dimana warna jazz, free jazz dan ambient music sangat terasa dan Indra yang mengexplorasi suara synthesizernya dan Gilang dengan Pra yang berimprovisasi dengan drum dan bass, kita seolah-olah diajak dalam suasana kekacauan suara-suara mesin pengrusak hutan disusul dalam part 5, warna new age dan psychedelic sangat terasa dalam suasana sunyi tapi kering, selanjutnya boleh saja kita menginterpretasikan suasana kemenangan penghancuran hutan pada part 12. Tidak munutup kemungkinan juga bila anda mendengarkan akan mempunyai interpretsi yang lain lagi, justru mungkin disinilah kelebihan musik seperti ini, yaitu membebaskan interpretasi pendengarnya.

Yang menarik dari album ini, adalah masing-masing personalnya tampaknya berusaha maximal dalam berimprovisasi dan mengekplorasi alat musik yang mereka mainkan, walaupun terkesan mereka bereksperimental tapi tampak keseriusan mereka dalam bermain, selain album ini tampaknya temanya sangat kontekstual. Album ini diproduksi dalam Indi Label dan mungkin diproduksi dalam jumlah terbatas sehingga mungkin sudah sulit untuk mendapatkannya. Kita hanya berharap semoga Indra, Pra dan Gilang akan memproduksi album ini lagi apalagi musik yang mereka mainkan ini amsih jarang sekali musisi jazz kita yang memainkannya walaupun banyak musisi jazz mancanegara yang sudah memainkan jenis musik tersebut sebagai perkembangan atau pengkayaan musik jazz itu sendiri. Dan yang terakhir kita juga berharap mereka (PIG) masih terus memainkan musik-musik seperti ini apalagi jika memasukkan juga unsur etnis atau tradisional dari negeri kita sendiri.

Ajie Wartono

Memimpin divisi Projects & Event Management. Pernah mengikuti Dutch Jazz Meeting di Amsterdam, Belanda. Selama dua tahun dipercaya menjadi Ketua Festival Kesenian Yogyakarta (2007, 2008) selain sebagai Program Director, Bali Jazz Festival dan Ngayogjazz

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker