Review

KENNY GARRETT – SONGBOOK

KENNY GARRETT – SONGBOOK
Warner Bros.


Komposisi:

1. Two Down & One Across (Garrett) – 5:16
2. November 15 (Garrett) – 7:38
3. Wooden Steps (Garrett) – 6:07
4. Sing a Song of Song (Garrett) – 7:22
5. Brother Hubbard (Garrett) – 6:34
6. Ms. Baja (Garrett) – 5:54
7. House That Nat Built (Garrett) – 4:25
8. She Waits for the New Sun – 6:22
9. Before It’s Time to Say Goodbye (Garrett) – 5:17
10. Sounds of the Flying Pygmies (Garrett) – 4:40

 

Musisi :
Kenny Kirkland –
Piano
Jeff “Tain” Watts – Drums
Kenny Garrett – Sax (Alto)
Nat Reeves – Bass

Diluar sebuah kebiasaan jika kalau ada salah seorang musisi jazz (yang biasanya bernyanyi) membuat album karyanya dengan judul Songbook tidak lain adalah untuk membawakan karya-karya komposer ternama seperti Cole Porter, Richard Roger dan yang lainnya selain dirinya sendiri. Namun yang dilakukan peniup saksofon yang masih relatif muda ini mengeluarkan album yang berjudul Songbook tetapi semua komposisinya ciptaannya sendiri. Atau dapat saya bayangkan kurang lebih judul diatas menjadi “My Songbook”. Tetapi kalau kita hanya membaca dan mencari maksud dari judulnya tidaklah cukup tanpa mendengarkan isinya.

Sebagai lagu pertama adalah “Two Down & One Across”, dengan tema pembukaan yang singkat dan langsung saja dia seolah-olah berlari-lari setengah kencang dengan lincah. Dari judul lagunya mungkin dapat didengarkan apa maksud dia. Sampai pada kombinasi gelombang interval antar nada yang cukup menonjol namun terkesan pas-pasan saja. Yang menarik justru pada bagian akhir lagu pembukaan, misalnya dalam sebuah pertunjukannya, yang singat dan padat. Kita dengar penampilan mereka yang lebih serius di lagu urutan yang ketiga dan keempat, “Wooden Step”dan “Sing a Song of Song”. Saya lihat sinkopasi pemain drum yang cukup penting untuk mendukung suasana lagu ini, dan terkesan atraktif. Tiupan Kenny kali ini agak memperlihatkan kegarangannya yang tidak semata-mata bermain dalam tempo yang cepat saja, yang ditunjukan dengan efek vibrasinya yang tipis. Dalam lagu yang keempat tersebut, lebih terkesan manis dan rilek. Ditambah lagi dengan permainan piano Kenny Kirkland nuansanya seperti pemain pianonya kelompok Pat Metheny, yang menegaskan lagu ini kembali atas kerilekannya itu.

Tidak disebutkan apakah Freddie Hubbard sudah menjadi “kakaknya” atau memang menjadi sebutan karena kedekatan hubungan sampai ditulis sebagai judul lagu “Brother Hubbard” dan juga sisa lagu yang lain, yang lagunya justru mudah dicerna, komunikatif dan kasarannya bernuansa nge-pop yang dimainkan dengan alat-alat akustik. Kadang-kadang juga bagian rhytmn lembut tanpa diimbangi dengan gaya tiupan saksofonnya yang juga menjadi lembut.

Untuk musisi pendukungnya dalam album ini semua berperan secara proporsional tanpa ada yang saling menonjolkan diri dan rapi. Seperti Kenny Kirkland yang dapat dibilang menjadi salah satu musisi jazz yang sibuk sekarang ini (mempunyai banyak pengalaman, dari membantu Sting hingga Dizzy Gillespie), namun kelemahannya justru tidak adanya ciri khas dari pola permainannya. Disini menurut saya yang paling adaptif adalah pemain drum Jeff “Tain” Watts. Selain itu permainan Kenny Garret sendiri yang paling menonjol dan kalau kita mengikuti dia dalam albumnya yang lain atau dalam membantu musisi lain seringkali dia “spesialisasi” di nada-nada yang tinggi namun terkesan ringan, sehingga sehabis kita mendengarkan permainannya menjadi lelah dan mendapatkan hasil yang kurang maksimal.

Dari sisi ini mungkin kita barangkali sementara bisa menilai bahwa sebenarnya Kenny Garrett mempunyai dua maksud, pertama: mempertahankan tradisi, kedua: masalah kekinian. Kurang lebih menurut saya penjelasannya untuk alasan pertama adalah bagaimanapun juga sebagai salah satu revivalist sebuah tradisi yang dipertahankan untuk tetap hidup. Dan kedua adalah keadaan yang memungkinkan berkembangnya daya intelektual dan kreatifitas seseorang akan lebih memperkaya atas tradisi itu. Barangkali, kalau kita simak dengan albumnya yang sebelum ini (Pursuance: The Music of John Coltrane) akan lebih puas, namun sayangnya di Indonesia tidak direkam dalam bentuk kaset.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker