Review

MUSIK YANG “MENGALIR” DARI NORBERT STEIN DAN PATA MASTERS

PATA MUSIC DI GOETHE INSTITUT JAKARTA

Mungkin para penikmat musik khususnya jazz di Indonesia masih asing jika mendengar grup yang menamakan PATA MASTERS yang dibentuk oleh saxofonis dari Cologne – Jerman, Norbert Stein. Meskipun begitu grup yang merupakan salah satu grup musik jazz Jerman yang terbaik ini kemarin pada tanggal 15 November 2001 mengadakan konser di Goethe-Institut di Jalan Sam Ratulangi Jakarta setelah sebelumnya tampil di Bandung yang kabarnya mampu menyedot sekitar 900 penonton yang memadati aula barat ITB Bandung, dan dari penampilannya di Jakarta kemarin ternyata musik yang mereka mainkan bisa memukau dan mengundang kekaguman penonton, terutama yang menarik perhatian para penonton adalah beberapa alat musik yang mereka mainkan tidak begitu lazim digunakan dalam sebuah grup “jazz”. Alat seperti Bass Slit drums yang dimainkan oleh Mathias von Welck, berupa kotak segiempat dan ada dua jenis ukuran dan mengeluarkan suara seperti kolintang atau angklung dan dipukul dengan malet merupakan alat yang menarik perhatian dan mungkin di sini pun sangat jarang yang memakai begitu pula berbagai macam jenis flute yang dimainkan oleh Michael Hupel dari flute yang biasa digunakan sampai bass flute dan sub-contra bass flute yang mempunyai ukuran besar sehingga meletakkannyapun harus disangga dengan stand khusus, Christoph Hillmann dengan alat-alat elektroniknya yang dapat menciptakan berbagai macam gelombang suara dan juga berfungsi sebagai sampler juga tidak kalah menariknya, Klaus Mages pada malam itu juga memukau penonton dengan permainan drumnya yang dapat mengeksplorasi berbagai macam suara yang mungkin ditimbulkan oleh alat drums tersebut, tidak hanya memukul bagian pad-nya saja tapi juga bagian-bagian lainnya bahkan dia juga menggunakan botol aqua dan berbagai macam mainan anak-anak yang bisa menimbulkan suara sampai memproduksi suara lewat memukul-mukul pipi dan kepala.

Komposisi-komposisi yang dibawakan sebagian besar diambil dari album “Gravity” seperti Blue Stomp, Community dan Liquid Bird, kemudian dari album “Pata Maroc” seperti Parliament of Music dan Atonal Citizen juga beberapa komposisi lain seperti Monks dan Wild Thinking. Dari komposisi-komposisi yang dibawakan tersebut terdengar berbagai macam gaya dan pengaruh yang mendasari musik dari Pata Masters, permainan-permainan poliritmik dan perluasan nada-nada tonal dan atonal yang mengalir sesuai dengan improvisasi yang timbul dari setiap pemainnya selalu menimbulkan suasana yang lain, dan jika ada kesan bahwa rythm section pada grup ini mendominasi sebenarnya bisa dimaklumi karena sebetulnya tiap pemain berfungsi sama dan kadang bergantian antara menjadi suatu rhytm section ataupun memainkan melodi-melodi dari setiap tema dalam komposisi.

Ditilik dari komposisi-komposisi yang dimainkan menunjukkan terbukanya musik dari Pata Masters terhadap pengaruh-pengaruh luar seperti musik etnis dan avant-garde, kalaupun kita menyebut musik mereka adalah musik jazz walaupun tidak terlalu salah tapi jika didengarkan musiknya lebih luas lagi dan jazz hanyalah salah satu dari pengaruh yang mendasari saja jadi mungkin lebih tepat jika kita katakan saja musiknya dalah musik PATA, dan Norbert Stein sendiripun mengatakan bahwa setiap pemainnya juga mempunyai latar belakang musik yang berbeda-beda dan dia hanya membuat suatu dasar komposisi saja dan setiap pemainnya bebas untuk mengembangkannya sehingga musiknya mengalir sesuai dengan interpretasi dan improvisasinya, hal ini sesuai dengan filosofi dari Pata itu sendiri yang diandaikan seperti suatu organisme yang tumbuh dan berkembang. Kalaupun kita dalam konser ini mendengar banyak ritme-ritme dari musik Afrika maupun unsur-unsur free jazz dan free improvisation itu hanyalah bagian-bagian yang timbul dari musisi-musisi itu sendiri.

Beberapa lagu seperti Community menampilkan permainan drums yang dominan dan permainan bass flute, lagu Navratil dominan dengan ritme-ritme dari Maroko Afrika, komposisi Liquid Bird mengeksplorasi suara-suara riil dari berbagai macam alat perkusi dan elektronik, Blue Stomp, lagu yang menjadi lagu pembuka dan penutup menampilkan improvisasi solo sub-contra bass flute atau kita juga bisa mendengar unsur musik calypso pada komposisi Eternal Citizen. Secara keseluruhan penampilan Norbert Stein dengan saxophonenya yang katanya dipengaruhi oleh musisi-musisi seperti John Coltrane dan Pharoah Sanders juga mengundang decak kagum penonton, dia mperlihatkan kepiawaiannya dalam teknik bermain saxophone kombinasi sound yang keras dan lembut dapat divariasikan dengan sangat baik melalui improvisasi-improvisasinya. Kalaupun ada kekurangan dalam konser ini adalah mungkin karena sound yang kurang maksimal dan ini dapat dipahami karena konser ini menggunakan auditorium Goethe-Institut yang baru dan belum siap seluruhnya, meskipun begitu hal ini tidak mengurangi kesuksesan dari konser ini, dan tidak berlebihan kalau bisa katakan dengan melihat konser ini kita mendapatkan pengalaman baru dalam mendengarkan musik “jazz”, meskipun Norbert sendiri tidak menyebutkan bahwa mereka memainkan musik jazz dan menyerahkan kepada para pendengar untuk menyebut jenis musik apa yang mereka mainkan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker