Review

AHMED ABDUL-MALIK – JAZZ SAHARA

AHMED  ABDUL-MALIK – JAZZ SAHAR
AHMED ABDUL-MALIK – JAZZ SAHAR

Komposisi:
1. Ya Annas (Oh, People) Abdul-Malik 11:10
2. Isma’a (Listen) Abdul-Malik 9:10
3. El Haris (Anxious) Abdul-Malik 11:28
4. Farah ‘Alaiyna (Joy upon Us) Abdul-Malik 6:59

Musisi:
Ahmed Abdul-Malik – oud, bass
Johnny Griffin – tenor saxophone
Naim Karacand – biola
Jack Ghanaim – kanoon
Mike Hamway – darabeka
Bilal Abdurrahman – duf (tambourine)
Al Harewood – drums

Kategori World Music bukan lagi satu hal yang tak lazim lagi didengar atau dibicarakan di dunia musik sekarang ini; tetapi, seperti apapun di dunia ini, ada suatu saat dimana konsep atau ide untuk bermusik seperti ini tidak ada karena belum lagi tercipta. Pertanyaan yang tentu patut kita utarakan adalah bagaimana konsep World Music itu lahir? Siapa tokoh-tokoh di balik pergerakan tersebut dan bagaimana sejarahnya secara keseluruhan? Bagaimana pula hubungannya dengan Jazz?

Ada satu kubu yang menyatakan terjadinya pencampuran antara musik non-barat dan Jazz pertama kalinya terjadi kala Joachim Ernst-Berendt pergi ke Jepang dan disana merekam sebuah album yang diberi judul Sakura Sakura. Album ini dimotori oleh Hideo Shiraki Quintet + 3 Koto Girls yang dibuat untuk SABA, sebuah perusahaan elektronika dan rekaman di Jerman. Peristiwa ini menjadi cikal bakal meluncurnya suatu seri yang diberi nama “Jazz Meets…” dan judul-judul seperti Noon In Tunisia oleh George Gruntz, Flamenco Jazz oleh Pedro Iturralde, Jazz Meets India oleh Irene Schweizer, Djanger Bali oleh Tony Scott and the Indonesian All Stars, dan lain-lain, merupakan sekian dari banyak judul-judul yang dibuat antara tahun 1965 sampai sekitar 1975. Juga patut disoroti bahwa Berendt lah yang pertama kalinya mencetuskan istilah World Music untuk menjelaskan konsep tersebut.

Walau sedemikian pentingnya nilai dari album-album di atas, pernyataan kubu tersebut sebenarnya keliru karena Jazz sudah mengalami pencampuran dengan musik non-barat semenjak era swing. Perlu ditinjau rekaman Artie Shaw yang diilhami oleh berbagai jenis musik di Kuba (notabene: berakar dari Afrika) dan juga di era bop kala Dizzy Gillespie meneruskan ide tersebut dengan terciptanya Afro-Cuban Jazz, walau secara langsung tidak dapat dihubungkan dengan lahirnya World Music. Hal ini berubah ketika di tahun 1957 Kofi Ghanaba alias Guy Warren merekam sebuah album berjudul Africa Speaks, America Answers untuk Decca. Secara langsung kategori World Music mulai terbentuk walau nama tersebut belum lagi digunakan sehingga jenis musik ini dikategorikan sebagai Exotica, secara khususnya Jungle Exotica. Yang harus diketahui adalah bagaimana proses terciptanya musik tersebut. Arahnya saat itu adalah faktor-faktor teknik perkusi Afrika dimasukkan ke dalam Jazz dan dimainkan dengan pedoman Jazz dus peleburan secara keseluruhan belum tercapai. Hal ini berubah ketika di awal tahun 1958 Ahmed Abdulk-Malik mulai mempersiapkan berbagai aransemen yang di bulan Oktober, pada tahun yang sama, direkam dan tak lama kemudian dilepas dengan nama Jazz Sahara. Peleburan secara nyata terjadi karena secara seimbang dua jenis disiplin musik yang berbeda dipadukan dengan berbagai pedoman-pedoman kedua belah pihak dimainkan secara bersamaan atau silih berganti.

Jika dilihat dari tahun tersebut, Free Jazz sedang dalam masa-masa hamil besarnya dan Modal sedang dalam masa jaya-jayanya. Ditilik secara cepat, kedua ide tersebut berlandaskan dari satu asas: bahwa improvisasi tidak semata lagi perlu berlandas dari pergerakan dan analisa chords. Secara logisnya cara bermusik selanjutnya adalah dengan menghindari penggunaan chords sama sekali. Inilah salah satu faktor yang dilihat oleh Abdul-Malik sebagai masa depan dari Jazz. Abdul-Malik memikirkan hal yang tersebut karena baginya musik yang berdasarkan chords sudah mencapai sebuah equilibrium. Titik jenuh sudah tercapai dan sudah nyaris tidak ada lagi yang dapat didapat darinya. Dari sanalah dia mencari suatu media baru untuk bermusik secara kreatif dan olehnya musik Timur Tengah dipadukan dengan Jazz untuk pertama kalinya. Musik Timur Tengah yang dipelajari oleh Abdul-Malik berasal dari berbagai negara dan kebudayaan: Mesir, Sudan, Syria, Jordan, Irak, Lebanon sampai beberapa bagian dari Afrika Barat. Dari sana lah Abdul-Malik melihat sebuah jalan baru bagi Jazz. Berdasakan musik-musik yang bebas dari chords, dimana sebuah komposisi tidak semata harus mengikuti sebuah struktur yang baku atau dengan ukuran atau tempo tertentu, di sanalah terdapat sebuah kesempatan yang maha luas untuk bermusik atau berimprovisasi secara melodis.

***

Abdul-Malik lahir di Brooklyn, NY, dari pasangan yang berasal dari Sudan dan semenjak usia dini mulai mempelajari musik-musik Afrika, Timur Tengah dan Jazz dengan bass, biola, pano dan tuba. Oud atau gambus diangkat sebagai salah satu alat musik utamanya setelah dengan serius dia mendalami musik Timur Tengah. Sebagai pemain bass yang berakar di hard bop, Abdul-Malik memiliki portfolio yang patut dikagumi. Dengan alat musik tersebut Abdul-Malik memiliki identitasnya tersendiri dan dari tahun 1948 dia bermain untuk Fess Williams, Art Blakey, dilanjuti dengan Don Byas, Thelonius Monk, Randy Weston, Sam Taylor, Coleman Hawkins, Earl Hines sampai Herbie Mann. Dengan oud Abdul-Malik memiliki ciri khas menonjol dan harus diakui sebagai tokoh yang untuk pertama kalinya melakukan hal ini di dunia musik modern Amerika dan membuka pintu bagi musisi seperti Rabih Abou-Khalil, Maleem Mahmoud Ghania, Dhafer Youssef, Naizar Francis, dan lain-lain untuk berkarya.

Ya Annas dimulai dengan sebuah intro dari Johnny Griffin, disambung dengan dimainkannya tema dasar oleh segenap anggota kelompok ini. Solo biola Naim Karacand dipenuhi dengan double stops, cara memainkan alat musik gesek dimana 2 nada dimainkan secara bersamaan. Cara Karacand menggunakan double stops disini menunjukkan kelas dan latar belakangnya yang tersendiri. Tema diulang kembali sebelum Abdul-Malik bersolo yang mayoritas merupakan peluasan tema dasar komposisi ini. Awal solo Griffin terdengar agak tersendat dalam adaptasi dan peluasan ide. Secara perlahan namun pasti dia membangun ide-idenya, yang walaupun masih kurang terfokus sudah mulai menuju arah yang hendak ditujunya. Harus ditekankan fakta bahwa Griffin turut serta dalam rekaman ini dengan persiapan yang amat minim sehingga wajar jika secara perlahan dia membangun sebuah landasan untuk membuat dirinya nyaman disekeliling musisi-musisi lainnya. Setelah tema kembali diulang, Abdul-Malik meletakkan oud dan mulai memainkan bass, diiringi oleh Al Harewood yang memainkan swing drums sementara yang lainnya berkonsentrasi dengan riff yang digunakan oleh Griffin untuk membangun solonya, yang pada saat ini sudah terfokus. Solo bass Abdul-Malik menyusul dan menutup komposisi ini.

Isma’a dibuka dengan solo Griffin yang menunjukkan kekuatan latar belakang blues yang dimilikinya. Jack Ghanaim memainkan solo pertamanya dalam album ini dengan kanoon, sebuah alat musik dengan 72 dawai yang mirip dengan kecapi dan dimainkan diatas pangkuan. Secara keseluruhan komposisi ini merupakan perwakilan yang paling seimbang dari konsep permainan kelompok ini karena kekuatan dan latar belakang masing-masing pemain secara seimbang terdengar.

Kala El Haris dimulai dan solo Griffin mulai dapat disimak, nyata terdengar pada saat ini dia sudah sangat merasa nyaman dengan kelompok ini. Solonya memiliki kesempurnaan dan menunjukkan kepribadian sesungguhnya dari Griffin yang sebelumnya agak tersembunyi. Mungkinkah karena dia hendak dahulu menyimak arah permainan kelompok ini secara keseluruhan? Solo bass Abdul-Malik secara pizzicato, yang sepertinya berusaha menerjemahkan teknik permainan oud kedalam bass-nya, menyusul dilatar belakangi oleh riff dari biola dan kanoon. Setelah solo bass, Harewood menetapkan irama swing dan dengan bass yang mulai memainkan chromatic lines, Griffin memainkan solo yang bernafaskan bop sebelum segenap anggota kelompok memainkan variasi dari tema dasar komposisi ini yang disambung dengan solo biola dan oud secara terpisah. Farah ‘Alaiyna merupakan komposisi terakhir di album ini dan walau merupakan komposisi yang tersingkat, dia diolah sedemikian rupa untuk memberikan kesempatan kepada setiap solois untuk bermain secara maksimal. Solo kanoon yang diikuti oleh biola dan oud tanpa kehadiran alat musik barat sama sekali membuat komposisi ini sebagai wakil termurni dari musik Timur Tengah.

Walau harus ditekankan bahwa kualitas album ini tidak sepadan dengan kualitas album-album milik Abdul-Malik selanjutnya, seperti East Meets West, The Music of Ahmed Abdul-Malik, Sounds of Africa atau Eastern Mood of Ahmed Abdul-Malik, keberadaannya dalam sejarah musik harus diakui. Sebagai salah satu album terawal dari jenis musik ini, keinginan yang ditunjukkan oleh Abdul-Malik dan kawan-kawan patut diterima dan dihargai sedapatnya. Secara keseluruhan album ini merupakan contoh terawal dari World Music dan itu sudah lebih dari cukup untuk meletakkan album yang nyaris terlupakan ini di atas peta dunia musik kembali.

Alfred D. Ticoalu
Chicago, IL
31 Oktober, 2004

Tags

Alfred D. Ticoalu

Tinggal di Chicago, melakukan penelitian terhadap Jazz dan menulis atas topik tersebut. Sedang mengerjakan buku tentang sejarah Jazz di Indonesia. Juga berperan sebagai manajer band dan artis Jazz di Chicago. Turut aktif siaran radio online lewat www.voiceofjakarta.com; Nuansa Jazz adalah nama acara yang diasuh. Memiliki ribuan koleksi rekaman jazz di arsipnya dalam berbagai format: plat, CD, kaset, dll.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker