Review

Podjama & Saraswati

Podjama & Saraswati
Altrisuoni Records

Komposisi:
01. Shimmer of light (cl.schneider – traditional – a.fl.schneider)
02. Filled with sound (cl.schneider – traditional – a.fl.schneider)
03. Manuk rawa (prof. dr. i wayan dibia – cl.schneider)
04. Janger bali (traditional)
05. Kebyar camelawi (traditional)
06. Entre deux mondes (cl.schneider – traditional – f.radi maitre)
07. Tari danur dara / temple keeper (I Nyoman Cerita – cl.schneider – a.fl.schneider)
08. L’inespéré (cl.schneider – a.fl.schneider)
09. Tari margapati (traditional)
10. L’inespéré (reprise) (cl.schneider – a.fl.schneider)
11. Delighting (d.bertrand – a.fl.schneider)

Musisi :
Anne-Florence Schneider: voice
Jean-Pierre Schalle:
bass
Claude Schneider:
guitars
I Gusti Kompyang Raka and his Saraswati


Satu lagi album kolaborasi antara musisi barat dan musisi tradisional Indonesia, kali ini grup jazz dari Swiss yang menamakan grupnya Podjama berkolaborasi dengan grup gamelan Bali Saraswati pimpinan I Gusti Kompyang Raka. Bagi grup Podjama yang terdiri dari vokalis Anne-Florence Schneider, bassis Jean-Pierre Schalle dan gitaris Claude Schneider, kolaborasi dengan grup musik etnis bukan hal baru karena mereka pernah juga melakukan dengan grup dari Maroko, begitu juga dengan Kompyang Raka, bukan hal baru berkolaborasi dengan musik barat atau “modern” misalnya dia pernah berkolaborasi dengan Eberhard Schoenner atau grup progressive rock dari Indonesia Discus. Sehingga dalam kolaborasi yang direkam dalam sebuah CD yang bertitel Podjama dan Saraswati (Altrisuoni label) mereka sudah dapat saling meyesuaikan meskipun memang tidak mudah untuk memadukan antara musik barat dan timur, tradisi dan modern, diatonik dan pentatonik, dan justru hal ini menarik dan selalu menjadi banyak pembahasan dan perdebatan tentang hasil perpaduan tersebut. Tapi bukan masalah hasil dari kolaborasi ini yang akan menjadi titik utama resensi ini tapi bagaimana proses tersebut telah berusaha dilakukan dengan hasil yang paling maksimal dari kedua grup ini dan seperti biasa akan selalu menjadi pertanyaan dalam perpaduan musik modern dan tradisi adalah apakah musik tradisional tidak hanya sebagai tempelan eksotisme saja.

Dalam setiap kolaborasi antar musisi barat dan timur yang selalu menarik untuk disimak adalah apakah mereka sudah dapat memadukan dengan memunculkan suatu identitas musik yang baru lepas dari identitas yang mereka bawa dalam grup mereka masing-masing, ataukah mereka hanya saling berdialog seperti halnya “tuan rumah” dan “tamunya” yang masing-masing saling mempersilahkan dan bergantian dalam “berbicara” dengan banyak toleransi dan dari masing-masing grupnya. Sepertinya dalam kolaborasi Podjama dan Saraswati mereka memilih yang kedua, mereka lebih banyak saling menyesuaikan tanpa memaksakan egositas bermusik mereka sehingga meskipun kolaborasi ini belum memunculkan sesuatu yang “baru” sama sekali tetapi tetap menarik untuk disimak dan dinikmati. Dan dengan grup yang minimalis hanya dengan gitar, bas dan vokal Podjama justru lebih memudahkan kolaborasi ini karena dengan format minimalis ini mereka tidak terlalu kompleks dalam penggarapannya.

Dalam CD ini dibuka dengan lagu Shimmer of light sebuah komposisi karya Claude dan Anne Schneider yang dipadukan dengan sebuah komposisi tradisional bali yang diambil dari bagian musik tari kecak (?), satu yang patut dicatat dalam komposisi ini adalah kejelian Podjama untuk mengambil gaya jazz rock sehingga bisa mengimbangi kedinamisan dari kerancakan gamelan bali yang diaminkan oleh grup Saraswati. Komposisi yang betitel Filled with sound masih hampir sewarna dengan komposisi pertama tadi hanya disini temponya lebih dinamis dan variatif, di dua komposisi ini penonjolan unsur tradisi dan modern bisa dikatakan berimbang dan bergantian. Komposisi ketiga Manuk rawa karya dari I Wayan Dibia dan Claude Schneider, lebih menonjolkan unsur musik tradisi, atau bisa dikatakan dikomposisi ini musik bali lebih menjadi “tuan rumah” dan lebih banyak bicara, Podjama dengan penonjolan permainan gitar dan voice seolah hanya mengiringi dan meyesuaikan saja dengan alur irama gamelan. Dalam dua komposisi tradisional Janger Bali dan Kebyar Camelawi warna tradisonal lebih banyak lagi mendominasi, vokal dari Anne Scheneider lebih banyak menyesuaikan dengan nada diatonis dari alunan musik gamelan dalam Janger Bali, dan dalam Kebyar Camelawi justru peran Podjama hampir tidak ada sama sekali dan didominasi penuh oleh orchestra gamelan Bali dari Saraswati. Di Komposisi Entre deux mondes justru peran Podjama gantian lebih menonjol, disini Podjama lebih banyak menawarkan warna psychedelic dengan soundscapes dan ambient sound, gamelan hanya sebagai latar belakang perkusif saja meskipun juga justru memperkuat suasana yang ingin dibangun dalam komposisi tersebut, ini merupakan salah satu kejelian dalam komposisi ini. Satu lagi komposisi yang dicoba untuk diramu secara berimbang antara Podjama dan Saraswati adalah perpaduan komposisi tradisional karya I Nyoman Carita dan Claude Scheider/Anne Scheider yaitu Tari danur dara / temple keeper , dalam komposisi ini mereka mencoba berdialog secara “imbang” dan saling mengisi bergantian, bukan perpaduan yang ditawarkan dalam komposisi ini tapi lebih seperti diaolg anatara barat dan timur, tradisi dan modern. Dua buah komposisi dalam tiga track yang terus menyambung yaitu L’inespéré (karya Claude dan Anne Schneider) disambung komposisi tradisional Tari Margapati dan disambung lagi reprise dari L’ inespéré mencoba membuat alur yang cukup unik, dibuka dengan L’inespéré yang bergaya swing dan bossa yang ringan kemudian disusul Tari Margapati yang sangat dinamis ditutup lagi dengan reprise dari L’inespéré sehingga susana yang terbangun menjadi dinamis dan sekali lagi mereka tidak memaksakan suatu perpaduan tapi seolah hanya berdialog dan mencoba berjalan bersama saja tanpa menghilangkan identitas mereka masing-masing, seolah menyatakan bahwa yang tradisi teruslah berjalan sementara yang modern teruslah berkembang. Album ini ditutup dengan komposisi Delighting dari Podjama, dan sepertinya hanya mereka bertiga yang bermain disini, sebuah kompossi yang khas Podjama, perpaduan jazz, folk dan dengan olah vokal yang cukup apik dari Anne Schneider.

Secara keseluruhan dari kolaborasi Podjama & Saraswati yang dirilis oleh label Altrisuoni dari Swiss ini menarik untuk disimak, latar belakang dari musik Podjama yang mengambil perpaduan jazz, folk dan rock dan juga tidak membatasi pengaruh musik lain sepertinya lebih memudahkan mereka dalam mengadaptasi dan berdialog dengan musik Gamelan Orchestra Saraswati yang lebih kental berwarna tradisi khusunya tradisi musik Bali. Dan penggarapan kolaborasi ini menurut saya lebih bersahaja karena mereka, antara modern (barat) dan tradisi (timur) tidak saling memaksakan, mereka lebih membuat apa yang maksimal mampu dilakukan, sebuah penyikapan yang cukup bijaksana.

Ajie Wartono

Memimpin divisi Projects & Event Management. Pernah mengikuti Dutch Jazz Meeting di Amsterdam, Belanda. Selama dua tahun dipercaya menjadi Ketua Festival Kesenian Yogyakarta (2007, 2008) selain sebagai Program Director, Bali Jazz Festival dan Ngayogjazz

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker