Review

JAZZ MASA KINI, THE NEW WAVE OF INDONESIAN JAZZ



Aksara Records

Komposisi:
1. Indra Aziz – “Jakarta City Blues”
2. Shelomita and Opustre Big Band –  “Payung Fantasi”
3. Bobb Quartet – “Whatever Works”
4. Imam Pras Quartet (IPQ) – “Nature”
5. Mian Tiara with Riza Arshad & Ricky Lionardi – “Three Colours”
6. Parkdrive – “Mengenang Cinta”
7. Nial Djuliarso Duo – “Moscow Morning”
8. Rifka – “Without Me”
9. 6th Element – “Hecta Dance”
10. Tomorrow People Ensemble – “Wham Bam Thank You Ma’am!!!“
11. Sequoia – “Banyumas Delight”

Musisi :
Various Artists

Sebuah dokumentasi karya pemusik-pemusik jazz muda Indonesia telah lahir. Adalah Aksara Record yang punya gawe merilis sebuah album berjudul “Jazz Masa Kini, The New Wave of Indonesian Jazz.”  Album kompilasi ini bertujuan untuk mengenalkan genre musik jazz yang eksis dan bertumbuh cepat di scene musik masa kini. Selain itu pihak label  juga menyatakan album yang menampilkan aransemen dan instrumentation unik ini akan menjadi pemicu dan kendaraan tiap artis merilis sebuah album solo.

Berikut komposisi-komposisi dan profil pengisi album tersebut;

Indra Aziz – “Jakarta City Blues”
Jakarta City Blues adalah komposisi accapela yang ditulis, diaransemen, dan dibawakan oleh Indra Aziz secara solo. Aziz mengisi semua suara dan pembagiannya pada lagu bernuansa blues yang menceritakan kemacetan dan polusi jalan di Jakarta saat ini. Pilihannya ini mengingatkan kita pada gaya Bobby McFerrin saat membawakan karyanya.

Indra Aziz, vokalis kelahiran 3 September 1978 yang juga seorang saksofonis, mengawali karir musik profesionalnya semenjak tahun 2001 bersama Indra Aziz Quintet. Putra seniman Rosita Sanusi ini menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Trisakti dan kemudian belajar alto saksofon di Farabi dan mendalami vokal serta tenor saksofon di Institut Musik Daya selama 2 tahun. Pengalamannya di dunia big band berawal dari orkes Dwiki Dharmawan mendampingi pemain trumpet Didiet Maruto, lalu Daya Big Band di mana Ia bermain sebagai Tenor Saksofonis. Saat ini Aziz sibuk bermain bersama Opustre Big Band di berbagai acara selain sebagai vokalis dan saksofonis mengisi beberapa album rekaman, antara lain album Rieka Roeslan, Maliq n d’essentials, SOVA, dll. selain itu ia juga sedang mempersiapkan debut album solo.

Shelomita and Opustre Big Band –  “Payung Fantasi”
Karya-karya Alm. Ismail Marzuki banyak menjadi ladang ide bagi musisi generasi sekarang untuk diolah kembali. Adalah Payung Fantasi yang menjadi pilihan vokalis Shelomita dan rekannya yang tergabung dalam band bernama Opustre. Kelompok ini mengaransemen ulang lagu yang pernah dipopulerkan oleh Alm. Bing Slamet itu dalam format mini big band.  Musisi yang terlibat dalam lagu itu adalah Happy Wardhani (Trumpet), Leonardus Mulyanto (Alto Saxophone), Indra Aziz (Tenor Saxophone), Enggar Widodo (Trombone), Ricky Lionardi (Guitar), Adra Karim (Piano), Indra Perkasa (Bass) dan Elfa Zulhamsyah (Drums).

Opustre adalah grup yang dimotori oleh Ricky Lionardi, Adra Karim, dan Indra Aziz. Seperti hal nya Indra Aziz, kedua kolaborator Opustre merupakan musisi muda yang berdomisili di Jakarta.  Ricky Lionardi, pria kelahiran 24 Agustus 1980 adalah seorang gitaris, komposer, dan arranger yang lulus sebagai magna cum laude pada tahun 2003 dari Berklee College of Music, Boston dengan jurusan Jazz Composition dan Guitar Performance. Ia berlaku sebagai konduktor, arranger, music director big band Opustre. Ia juga banyak mengerjakan film scoring dan  memproduseri rekaman serta menulis aransemen untuk berbagai kebutuhan industri seperti Maliq n d’essentials, parkdrive, sova, Dian Pisesha. Kemudian, Adra Karim, adalah seorang pianis muda berbakat yang pernah mengemban pendidikan selama 1 tahun di Institut Musik Daya, Jakarta. Putra Niniek L. Kari ini menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2004 dan terus berkarya di bidang musik khususnya jazz. Saat ini, selain aktif di Opustre sebagai arranger, Adra juga bermain keyboard di dalam grup jazz muda Tomorrow People Ensemble dan bermain sebagai sessionis dalam berbagai grup termasuk grup pop rock Potret dan grup rock Getah.

Opustre memiliki beragam bentuk formasi dari jazz trio, brass band, brass band + strings, hingga full big band. Kelompok ini memiliki misi melestarikan musik ensembel besar dan telah mengaransemen ulang cukup banyak lagu-lagu dari negeri sendiri dalam style jazz big band di antara lagu-lagu tersebut adalah lagu dari Dodo Zakaria, Ismail Marzuki, Pance Pondaag.
Sejak tahun 2003 Opustre telah melakukan beberapa penampilan yang melibatkan banyak penyanyi papan atas serta memiliki banyak aransemen orisinil dalam berbagai style, yang kebanyakan adalah jazz style, dari swing hingga latin jazz.  Saat ini mereka sedang mengerjakan sebuah album big band bersama Shelomita yang rencananya akan dirilis tahun 2006. Lagu ‘Payung Fantasi’ ini dapat disebut sebagai bocoran rencana album tersebut.

Bobb Quartet – “Whatever Works”
Merekalah Dion Janapria (Guitar), Doni Sundjoyo (Double Bass), Indra Aziz (Tenor Saxophone), dan Elfa Zulhamsjah (Drums) yang menjadi arsitek komposisi berjudul ‘Whatever Works”. Sekelompok pemusik jazz muda itu tergabung dalam grup yang dinamakan Bobb quartet.  Janapria adalah gitaris lulusan sebuah konvensatori musik di Amsterdam, Belanda yang menulis komposisi tersebut.  “Whatever Works” menjadi sample gaya permainan kontemporer jazz yang akan mereka kembangkan.

Imam Pras Quartet (IPQ) – “Nature”
‘Nature’ adalah materi presentasi  kelompok pemusik muda dari luar Ibu kota.  Komposisi straight ahead jazz ini dibawakan oleh Imam Pras Quartet (IPQ). Formasi kelompok ini adalah Imam Pras (acoustic piano), Rudi ARU (double bass), Ari ARU (drum)\ dan  Boyke P. Utomo (Tenor Saxophone).

IPQ dibentuk pada tahun 2004 di Bandung. Pada awalnya kelompok ini terbentuk dari kegiatan latihan dan diskusi jazz informal yang rutin diadakan setiap minggu di ARU studio jalan Riau Bandung yang diberi nama Lab Jazz ARU-Imam Pras.  Imam Pras yang sangat produktif menghasilkan karya di IPQ banyak dipengaruhi oleh musik Herbie Hancock, Bill Evans, McCoy Tyner dan John Coltrane. Sedangkan Rudi ARU sangat menyukai permainan Ron Carter dan Gary Peacock, selain dipengaruhi oleh musisi rock seperti Iron Maiden dan Van Hallen. Lain lagi dengan Boyke P. Utomo yang menyukai permainan John Coltrane, Sonny Rollins, Joe Henderson, Michael Brecker, Bill Evans selain menyukai musik rock seperti Metallica, Dream Theater, Liquid Tension Experiment, Iron Maiden dan Van Hallen. Begitu pula dengan Ari ARU yang mengidolakan Jack de Johnette sebagai drummer idolanya, selain menyukai pula musik rock seperti kakaknya, Rudi ARU.

Kelompok ini sering membawakan repertoir standard jazz, original composition, dan lagu-lagu yang tidak termasuk ke dalam kategori musik jazz, seperti pop, rock dan musik-musik tradisional Indonesia yang diaransemen ulang agar sesuai dengan format akustik jazz quartet melalui reharmonisasi chord dan rhythm. Beberapa repertoire non-jazz yang pernah dibawakan oleh IPQ di antaranya adalah beberapa lagu karya Deep Purple, The Rolling Stones, Black Sabbath serta beberapa lagu karya musisi Indonesia seperti Bimbo, Guruh Soekarno Putra, Koes Ploes dan musisi Indonesia lainnya. Dengan konsep musik yang tidak melulu terpaku pada repertoire standard jazz, IPQ mencoba untuk membuka diri terhadap semua jenis musik, dengan harapan agar jazz akan semakin diapresiasi oleh berbagai kalangan dan tidak berkesan eksklusif.

Mian Tiara with Riza Arshad & Ricky Lionardi – “Three Colours”
Kolaborasi Mian Tiara Tobing dengan Riza Arshad kembali berlanjut. Setelah keduanya, plus gitaris Oele Pattiselanno, bekerja sama di album duet Riza-Oele, Talks, kini di Jazz Masa Kini, mereka mengajak gitaris lain menggubah sebuah lagu. Adalah gitaris Ricky Leonardi yang memproduksi lagu berjudul ‘Three Colours’ hasil karya Riza dan diberi lirik oleh peraih AMI Award 2003 untuk lirik lagu ‘Rumah Ketujuh’ itu. Lagu ini dilantunkan Tiara dengan nuansa folk jazz dari permainan akordeon Bugari Armando Riza dan petikan gitar Gibson Ricky. Seperti judul lagunya, tiga warna ketiga musisi itu berhasil memperkaya album kompilasi ini.

Parkdrive – “Mengenang Cinta”
Kelompok Parkdrive sedang naik daun sejak pertengahan tahun 2005 lalu.  Lagu mereka yang memiliki tingkat kompromi cukup besar pada pasar musik pop Indonesia dipilih satu untuk masuk ke dalam jajaran kompilasi album ini. Adalah “mengenang Cinta’ yang dianggap mempresentasikan grup yang dibentuk pada pertengahan tahun 2002 di Boston oleh Rayendra Sunito dan Juno Adhi, dua musisi yang tengah menimba ilmu di Berklee College of Music serta Mikuni Gani, sang vokalis.

Selama kurang lebih dua tahun menggarap materi, visi mereka pun menyatu dan berkembang dengan sendirinya.  Keinginan yang sama untuk berkarya dengan jujur, dan membuat suara yang baru dan fresh untuk industri pop Indonesia, membuat mereka berkolaborasi dan menyatukan segala influence pribadi ke dalam musik Parkdrive yang merupakan paduan musik bernuansa Jazz, Soul, Funk, RnB dan Brazilian dengan tetap dibalut warna pop. Kombinasi kesederhanaan lagu dan lirik yang bertemakan hidup dan cinta ini mudah dicerna dengan menghadirkan chorus melodik yang catchy.  Variasi inilah yang dapat didengar di album pertama Parkdrive dan sebuah lagu hasil karya bersama Glen Fredly untuk album soundtrack film “Cinta Silver”.
Selain terus mengibarkan bendera Parkdrive, para personel grup ini aktif berkolaborasi dengan musisi muda lainnya dalam sebuah komunitas. Adalah Gowa Music yang didirikan oleh Rayendra bersama Juno Adhi sebagai wadah merealisasikan idealisme musik mereka.  Hasilnya dapat ditunggu di album Parkdrive seri kedua dan rilisan-rilisan Gowa Music lainnya.

Nial Djuliarso Duo – “Moscow Morning”
‘Moscow Morning’ adalah salah satu komposisi yang diambil dari album solo Nial Djuliarso at Julliard (2006).  Lagu ini merupakan duet Nial Djuliarso pada piano akustik dengan bassist Rufus Reid.

Nial Djuliarso adalah sedikit dari musisi muda Indonesia yang mendapat kesempatan untuk bergaul dengan komunitas jazz langsung dari negara asalnya. Pianis lulusan Berklee College of Music in Boston, MA dan saat ini sedang menimba ilmu di Juilliard School telah tampil di beberapa event jazz penting, seperti tampil di The Weill Recital Hall, Carnegie Hall – New York, The North Sea Jazz Festival; Kennedy Center Washington D.C,  Montreux Jazz Festival Switzerland, Sarasota Jazz Festival, pemenang the “Overall 3rd prize” dan the 1st prize in category “Instrumental” at the 2005 USA Songwriting Competition. Interaksinya antara lain dengan Danilo Perez, Joe Lovano, Joanne Brackeen, Hal Crook, Ed Tomassy, Sonny Watson, Bo-Bill Winiker, Wynton Marsalis, Kenny Barron, Carl Allen, Renee Rosnes membuat pria kelahiran tahun 1981 ini dapat fasih berdialog dengan permainan Rufus Reid, salah satu pemain bass terbaik dunia versi Majalah Down Beat tersebut.

Rifka – “Without Me”
Daftar penyanyi solo pria yang menekuni jazz akan bertambah dengan hadirnya Rifka Rachman di album ini. Rifka menyanyikan lagu berjudul ‘Without Me’ yang ditulisnya sendiri. Ia menyebutkan bahwa ‘Without Me’ awalnya simple dan kemudian mendapat sentuhan permainan piano Joy Marantika, Doni Sundjoyo (upright bass) dan Rayendra Sunito (drum) sehingga menjadi lagu yang well crafted tune.  Semoga ‘Without Me’ menjadi debut Rifka sebagai penyanyi solo yang dapat konsisten meramaikan pentas jazz Indonesia.

6th Element – “Hecta Dance”
Adalah formasi terbaru 6th Element; Ali Akbar (piano, hammond), Arie Firman (electric bass),  Agam Hamzah (gitar), Aksan Syuman (drums), Phillippe Ciminato (perkusi) dan Rieka Roslan (lead vocal) yang akhirnya menampilkan karya mereka dalam sebuah rekaman. Kelompok ini telah dua tahun kebelakang aktif menampilkan karya sendiri di atas panggung. Kehadiran mereka dimulai dari pengunduran diri Rieka dari The Groove dan proyek album solo pertamanya dimana ia dibantu sebagian besar personel 6th Element. Interaksi antar personal di studio dan kemudian panggung membuat 6th Element solid sebagai sebuah grup. Yang membedakan dengan solo Rieka, komposisi 6th Element, seperti yang dihadirkan dalam ‘Hecta Dance’, adalah lebih pada instrumentasi dengan kombinasi afro Cuban dan pengaruh Brazillian. Voice Rieka menguatkan struktur lagu itu dan mengingatkan pada gaya bernyanyi Flora Purim.

Tomorrow People Ensemble – “Wham Bam Thank You Ma’am!!!“
Tidak berlebihan bila disebutkan Tomorrow People Ensemble disebut sebagai kelompok masa depan jazz Indonesia. Ensemble yang terdiri dari Azfansadra Karim (Piano Fender Rhodes/Organ/Synthesizer), Nikita Dompas (Guitar), Elfa Zulhamsyah (Drum Set & Toys) dan Lie Indra Perkasa (Double Bass) telah berulang kali mendapatkan pujian dan perhatian lebih di kegiatan-kegiatan jazz nasional; Pasar Jazz, Indonesia Open Jazz, Nusa Dua International Jazz Festival (Bali), Java Jazz International Festival, Bali Jazz Festival, Jazz Goes To Campus.
Kelompok ini terbentuk di awal tahun 2003. Penamaan grup  ini seperti dijelaskan oleh mereka adalah; kata “Tomorrow People” mewakili presepsi tiap personel pada band dan musik yang dimainkan yang akan selalu melangkah maju tanpa meninggalkan yang lalu,  sedangkan kata “Ensemble” berarti sekelompok musisi yang bermain musik atau bernyanyi bersama. Para personel Tomorrow People Ensemble setuju bahwa mereka memainkan berbagai jenis musik yang dianggap baik dan memberikan inspirasi, namun pengaruh terbesar adalah dari musik jazz (secara harmoni, rhythm, improvisasi). Selain itu mereka juga mendapat pengaruh dari rock n roll, blues, reggae, electronic music, classical, afro Cuban, free music, funk, bahkan musik tradisi Indonesia.

‘Wham Bam Thank You Ma’am!!!’ adalah salah satu komposisi dari album debut yang tengah mereka garap. Musik Tomorrow People Ensemble di lagu ini mengingatkan kita kepada paduan jazz dan psychedelia serta nuansa rock ala Medeski, Martin and Woods.

Sequoia – “Banyumas Delight”
Telah kembali sebuah grup yang lama tidak terdengar aktifitasnya di panggung jazz Indonesia. Sequoia yang kini terdiri dari Orliando Roeslan (Guitar), Irsa Destiwi (Piano), Dwi Prastowo – a.k.a Dudi (Bass), Gusti Pramudya – a.k.a Bemby (Drums) dan Fazariah Hentiansanti – a.k.a Menu (Vocals)  adalah band jazz pop fusion yang berdiri tahun 1999. Awalnya mereka memainkan jazz fusion seperti Casiopea, Al Jarreau dan Chick Corea dan tampil di event-event seperti Jazz Goes To Campus, festival band Panggung Band 2000 RCTI. Tapi dengan seiringnya waktu, Sequoia akhirnya memainkan musik-musik pop dan bermain di café-café.
Lagu yang direkam untuk album kompilasi ini berjudul “Banyumas Delight”. Nuansa light jazz di lagu yang ditulis oleh Aghi Narottama dan Bemby Gusti dan diaransemen bersama oleh para personel Sequoia ini terdengar sangat kental. Kesan manis yang dapat membuat pendengar ikut bersenandung mereka tampilkan melalui isian voice penyanyinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker