Review

FLORA PURIM – FLORA’S SONG

FLORA PURIM – FLORA’S SONG
Narada, 2005


Komposisi:

1. Las Olas
2. Less Than Lovers
3. This Is Me
4. Flora’s Song
5. É Preciso Perdoar
6. Silvia
7. Forbidden Love
8. Anjo de Mim
9. Lua Cheia
10. Anjo Do Amor

Musisi :
Flora Purim
(vokal); Diana Moreira, Adam Camardella, Rob Gardner (backing vokal); Krishna Booker, Marcos Silva (keyboard); Jimmy Branly (drum); Gary Brown, Andreé DeSantanna,  Mark Egan,  Reggie Hamilton (bass); Grecco Buratto, Dori Caymmi,  José Neto (gitar); Dominic Camardella (organ); George Duke, Christian Jacob (piano); Giovanni Hidalgo, Airto Moreira (perkusi); Gary Meek, (flute); Harvey Wainapel (saxophone); Andy Narrell (steel drum).

Namanya berkibar dalam blantika musik jazz di era 1970an dengan membawa sebuah kombinasi nafas musik Brasil yang kental nuansa tropisnya dengan improvisasi musik jazz. Flora Purim adalah salah satu penyanyi kelompok fusion legendaris Return To Forever pimpinan Chick Corea dalam formasi pertama di awal dekade 1970an. Vokalis kelahiran Rio De Janeiro tahun 1942 ini juga adalah istri seorang perkusionis terkenal Airto Moreira.

Dari kualitas yang mengagumkan sampai yang lumayan, album-album Flora Purim ketika ditangani oleh label Milestone sampai menjelang akhir 1970an, membantu namanya selalu dijadikan acuan untuk vokalis jazz fusion terkenal dalam dunia musik jazz. Memasuki era 1980an, Purim seperti kehilangan arah dalam berkarya. Banyak albumnya dibuat tidak menentu dalam hal gaya dan fokusnya. Namun sejauh ini, sampai sekarang dia tetap diakui sebagai vokalis Brazilian jazz yang hebat.

Sementara album terakhirnya, “Flora’s Song”,  yang dikeluarkan pada akhir 2005 yang lalu menunjukan bahwa dia masih cukup aktif dalam berkarya. Selain itu, kegiatan tour keliling dunianya juga masih dijalani. Contohnya di beberapa waktu lalu dalam ajang Java Jazz Festival 2007, penampilan Flora Purim bersama Airto Moreira masih cukup memukau para penonton.

Album ini sendiri terdiri dari 10 tembang yang sebagian besar menggunakan bahasa Portugis. Meskipun demikian, masalah bahasa ini tidaklah mengganggu akan penampilannya secara keseluruhan. Justru menunjukan eksistensi dalam menggunakan bahasa aslinya dengan improvisasi vokal khas musik jazz dan mampu menciptakan nuansa yang eksotis dan tropikal. Ada juga sebagian orang bilang, kalau tidak mengerti bahasanya, cobalah nikmati musiknya.

Seperti biasanya, Flora Purim masih menunjukan kecintaannya terhadap kebudayaan aslinya dari Brazil dengan banyak sekali memasukkan unsur – unsur tradisi musik Brazil ke dalam aransemennya. Namun dalam beberapa tembang lain, Purim juga membuka pengaruhnya terhadap musik blues, rock maupun reggae. Seperti dalam ‘Less Than Lovers’ dan ‘Lua Cheia’. Penampilannya dalam ‘Flora’s Song’, eksplorasi vokal dan musiknya sedikit mengingatkan kita kepada sepak terjang Purim di tahun 1970an, meskipun terlihat cukup banyak penurunan power vokalnya. Barangkali hal tersebut terjadi dengan hadirnya kembali Goerge Duke yang bermain piano karena Goerge Duke adalah rekan bandnya di awal dekade 1970an.

Kesan lain yang didapat setelah mendengarkan adalah terbuka lebarnya kesempatan ruang bersolo improvisasi para musisi pendukungnya. Ironisnya, penampilan olah vokal Purim justru tidak banyak. Atau hal ini justru menunjukan sikapnya yang demokratis. Penampilan para musisi pendukungnya sendiri cukup berani menunjukan kelasnya. Seperti penampilan pemain steel drum Andy Narrell dalam ’E Precisa Perdoar’ dan ‘Forbidden Love’. Selain itu, penampilan George Duke juga cukup mengambil perhatian.

Ada beberapa album rekomendasi karya Flora Purim. “Butterfly Dream” (1973), “500 Miles High” (1974) dan “Encounter” (1976). Semuanya direkam dibawah label Milestone.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker