Review

CERITA SEPUTAR KELOMPOK CANZO – ALBUM SONG FOR YOU

Song For You merupakan fase terbaru metamorfosis kolektif dua sahabat. Gitaris Totong Wisaksono dan keybordis Derry Iskandar memulai perjalanan panjang mereka sejak paruh awal tahun 80an disaat fenomena Light Music Contest melanda negeri. Canizarro adalah kendaraan keduanya mentas di berbagai ajang kontes band dan pentas musik. Banyak nama yang kemudian terdaftar masuk dan keluar dari band ini. Sebut saja misalnya di formasi awal Canizarro ada nama bassis Ilyas Muhadji, drummer Tb Hendy Pratama, dan kemudian masuk perkusionis Agus Windiarto.

Kiprah perdana mereka di industri rekaman justru bukan dengan nama Canizarro. Totong Wisaksono dan Derry Iskandar membentuk Wide Gift untuk mengawal duet Tio Pakusadewo dan Zara Zetira. Baru tahun 2002 nama Canizarro eksis menelurkan album. Album perdana ini diberi judul Untuk Selamanya. Selang setahun dirilis album kedua dengan nama Reinkarnasi. Album ini melibatkan banyak musisi yang besar era 80an dan paruh awal 90an. Sebut saja gitaris Mus Mujiono, drummer Aldy dan vokalis Trie Utami. Namun nafas Canizaro formasi reinkarnasi hanya bertahan kurang dari hitungan 2 tahun. Justru original member Totong Wisaksono dan Derry Iskandar yang terdepak keluar dari band yang mereka dirikan.

Keduanya bergerilya mencari wadah menyalurkan cetak biru konsep mereka yang tertunda di Canizarro. Satu demi satu personil baru direkrut;  drummer Ria Ratna Juwita, saksofonis Dennis Junio, dan bassis Naya Havilliant adalah talenta-talenta baru yang bergabung dengan Totong dan Derry. Ketiganya adalah pemain muda yang kini baru berumur belasan tahun maksimal jelang 20an. Malah Dennis Junio kabarnya masih berusia 14 tahun. Maka genaplah kombinasi dua generasi itu dalam sebuah kelompok bernama Canzo.

Tentang hadirnya talenta-talenta muda dan kecocokan mereka bermain musik bersama, lanjut Totong Wisaksono, “… Mereka cukup talented untuk memainkan lagu-lagu yang kita (Totong & Derry, ed) punya. Saya melihat seperti tidak ada perbedaan, walaupun secara usia kita berbeda cukup jauh. Jadi kita dengan sendirinya bisa percaya diri dan menyatu. Karena mereka memainkannya juga dengan semangat yang bagus. Semangat ingin mencoba dan mencoba terus untuk bisa. Akhirnya kita melihat ini menjadi suatu bentuk yang perlu diwujudkan dalam bentuk album. Hingga terwujudlah album Canzo dengan mereka.”

Adalah Song For You yang dipilih menjadi judul debut album Canzo. Koleksi yang ditebitkan oleh Indiejazz ini menghadirkan sembilan lagu – tujuh instrumental dan sisanya bervokal. Beberapa lagu adalah stok lama yang diangkat dari dua album Canizaro terdahulu. Ada “Karena Dia”, “Sweet Love”, “Bromo” dan “Night in Samarinda” dari rilisan pertama. Lalu “Keep Out” dari Reinkarnasi. Empat lainnya adalah komposisi yang belum pernah dipublikasikan dalam sebuah rekaman.

Apa ada perbedaan dari lagu-lagu yang pernah dirilis di dua rekaman sebelumnya? jelas ada. Mereka kini adalah Canzo. Totong Wisaksono menjelaskan bagaimana konsep kolaboratif dua generasi ini, “… saya berdua Derry selalu punya garis bahwa musik yang kita mainkan biasanya instrumental. Jadi di tiap album selalu memainkan instrumental. Karena kita akan bergabung dengan pasar musik Indonesia, maka kita harus membawakan lagu-lagu bervokal…” Jadi, inilah poin penting pembeda album Canzo dengan dua rilisan sebelumnya. Kini mereka lebih mengedepankan komposisi instrumental, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.

Di sisi kuantitas jelas di Song For You jumlah repertoar instrumental lebih banyak dari pada lagu bervokal. Sedang tentang kualitas, cerita Derry Iskandar bahwa ide membuat Canzo yang berawal dari pertemuan-pertemuan di studio latihan ini menghasilkan suatu transfer energi dan sebagai usaha realistis supaya tidak terlalu jauh berdiri dari kekinian. Timbal balik transfer energi dua generasi inilah wujud nyata dari pembaharuan berkualitas keberadaan Canzo kini.

Coba bandingkan “Keep Out” versi Reinkarnasi dengan yang baru, pernyataan Derry bisa dibuktikan dari mood lagu itu meski alur keduanya dibuat mirip. Pada versi Canzo, tempo “Keep Out” dicepatkan dan ini membuat rhythm terasa lebih dinamis dan berenergi muda. “Bromo” masih relatif sama dengan versi di Untuk Selamanya. Lagu ini masih mengandalkan kelincahan permainan keyboard Derry yang kini ditingkahi saksofon Dennis, bukan lagi Aden bachri. Anthem Canizaro “Night in Samarinda” yang ditulis Totong Wisaksono pun dire-aransemen dalam versi Canzo. Sama seperti “Keep Out”, tempo lagu ini juga dinaikkan. Pola imrovisasi komposisi ini masih sejalan dengan versi sebelumnya. Terutama pada permainan saksofon Dennis yang lebih bermain aman dan belum nakal mengambil curi-curian nada.

Dua lagu bervokal adalah interprestasi ulang judul-judul yang sama dari rekaman sebelumnya. “Karena Dia” kini dibawakan oleh Kemala Ayu yang bukan kebetulan dulunya sempat sekian lama menjadi penyanyi utama Canizaro. Pemilihan Kemala Ayu di versi reuni ini oleh Totong dijelaskan semata karena karakter Ayu cocok dengan lagu “Karena Dia”. Hasilnya memang lagu ini menjadi lebih matang dari rilisan sebelumnya. Sedang “Sweet Love” versi baru adalah lagu berteks bahasa Inggris yang dinyanyikan oleh nama penting lain dari era 80an. Adalah Jackie Bahasoean yang dipilih Totong dan Derry melengkapi instrumentasi lagu ini. Alasannya, “…mencari vokalis cowok agak sulit, terutama yang setema dengan kami.” Maka jadilah “Sweet Love” sebuah jazzytunes untuk mengenang kejayaan suasana 80an.

Bagaimana dengan keempat lagu baru Canzo?  Yang pertama adalah pembuka album berjudul “Sunday Morning”. Sebuah smooth jazz yang dimulai dengan petikan akustik gitar Totong Wisaksono dan dilanjutkan unison dengan saksofon Dennis. Porsi solo komposisi yang ditulis oleh Totong ini diisi bergantian oleh instrumen gitar dan saksofon. Baru di ending ditampilkan solo bass Naya yang dibuat fade out. Kekuatan lagu ini adalah tema yang manis dan mudah diingat sehingga pantas ditempatkan di awal album. “Over Night” hampir sebangun dengan “Sunday Morning”. Sedang “Weekend” dibuka oleh penulis lagunya, Derry yang memainkan imrprovisasi dengan keyboardnya. Dominasi sound keyboard yang sesekali unison atau bergantian dengan saksofon ini terus dimainkan sampai lagu ditutup dengan distorsi gitar elektrik. Kembali sebuah smooth jazz ala Kenny G ditampilkan di “Song For You”. Lagu yang mengedepankan permainan alto saksofon Dennis Junio ini didedikasikan penulisnya untuk bakat-bakat muda, terutama ketiga junior Canzo.

Khusus tentang Dennis, Totong berkisah, “…ada lagu saya yang mempunyai tingkat kesulitan lumayan untuk tingkat pemula. Ternyata Dennis bisa mengikuti dengan nada yang pas dan ketukan yang benar. Artinya anak ini mempunyai potensi, tapi belum dikembangkan. Kebetulan dalam waktu berjalan itu Dennis dibimbing oleh Benny Likumahuwa. Jadi mempermudah saya untuk bisa lebih mengembangkan lagu-lagu yang kita mainkan.” Itulah opini Totong Wisaksono tentang Dennis Junio yang baru satu tahun memainkan saksofon dan tujuh tahun sebelumnya belajar biola. Sepertinya satu bakat peniup saksofon telah lahir. Ia dan grupnya, Canzo, diharapkan dapat meramaikan peta musik (jazz) Indonesia.

Harapan ini sejalan dengan tanggapan Benny Likumahuwa tentang Canzo, “… Asyik. Asyik banget. Begitu khasnya Totong dan Derry yang saya tahu. Jadi ini bisa menambah juga repertoar dari musik kita…” Sementara itu jika diharuskan memilih mana yang bagus dan berpotensi menjadi hits pertama, jawaban gitaris Canzo adalah, “….agak sulit. Baiknya dilempar ke pasar saja.” Wah, ini adalah pernyataan aman dari seorang musisi yang sarat pangalaman bermetamorfosis di ranah musik negeri ini.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker