Review

Ligro Trio – Ligro Dictionary I

ligro-dictionary

Sebuah dictionary pertama

Sebuah album yang menampilkan anasir jazz rock dengan pekat telah dirilis. Rekaman yang bertajuk “Ligro Dictionary I” itu dipersembahkan oleh sebuah trio bernama Ligro. Group yang terbentuk pada tahun 2004 terdiri dari Agam Hamzah (electric/acoustic guitar), Adi Darmawan (electric bass), Gusti Hendi (drum). Mereka menyebut, tujuan dari dibentuknya trio ini adalah untuk memperkaya khazanah musik Jazz Indonesia dimana pada era yang sama telah terbentuk beberapa kelompok musik jazz kontemporer seperti ; Java Jazz, simakDialog, Discuss.

Perkembangan musik Jazz yang dirasakan cukup positif oleh trio ini, memberikan semangat optimis kepada Ligro untuk terus mengembangkan kreatifitasnya. Group yang pernah menyertakan pemain drum Budhy Haryono ini telah menjajal beberapa acara musik. Mereka tampil pertama kali di Concert Practice yang diselenggarakan oleh Indra Lesmana dan Aksan Syjman di Art Studio Pondok Pinang. Lalu di beberapa konser seperti konser bulanan di Institut Musik Daya Jakarta, tampil di Java Jazz International Jazz Festival 2005,2006,dan 2008, Bandung Jazz Festival, Festival progresif musik Yamaha, Konser musik progresif di Institut Musik Indonesia (IMI).

Album yang dirilis tahun 2008 ini berisi enam komposisi karya mereka yang direkam secara live. “Ligro, adalah kebalikan dari orgil – orang gila,” ujar Agam Hamzah suatu ketika. “Orgil” juga adalah sebuah kompisisi di album itu yang ditulis oleh Jose Haryo Suyoto (Yose), yang bagi Adi Darmawan adalah, “Person who open up my musical horizon.” Lagu ini sedikit banyak mewakili pandangan mereka bermusik di dalam band ini, “lagu ini bercerita tentang pola-pola musik yang sangat tidak umum. Sesuatu yang tidak umum biasanya diluar kenormalan. Dan itu disebut gila,” papar Agam.

Gitaris Agam Hamzah, kelahiran Lhoksumawe 29 Agustus 1963 merupakan penyanyi utama kelompok ini. Dengan permainan gitarnya yang banyak dipengaruhi John McLaughin ia memberi warna khas pada album ini. “Garba Biru” adalah salah satu karya Agam Hamzah di album ini. Komposisi ini terinspirasi oleh keberadaan rahim wanita dan kompleksitas strukturnya. Jadinya memang sebuah fusi jazz yang cukup kompleks dengan berlandaskan pada ketukan rhythm 9/8 dan rasa blues. Agam Hamzah menjelaskan kata “biru” pada judul lagu adalah wakil dari inspirasi blues pada permainannya di lagu itu sekaligus wujud penampakan warna rahim. Ketukan 9/8 itu juga yang ia dekatkan pada waktu sembilan bulan rahim normal membesarkan janin menjadi bayi di dalamnya. Agam Hamzah juga menulis sebuah lagu yang berjudul “Green Powder” untuk Ligro. Anasir blues kembali mewarnai tema permainan gitar Agam di lagu yang bercerita tentang rasta itu.

Hendy yang juga berperan sebagai produser eksekutif album ini mengaku bahwa trio ini merupakan salah satu langkah awal dia terjun di musik profesional. Sebelumnya pada umur 19 tahun, drummer kelahiran Banjarmasin, 10 Maret 1980 ini bergabung dalam Big City Blues bersama bassis Mates dan gitaris Donny Suhendra. Setelah cukup lama mengasah kemampuan bermusik dalam komunitas tersebut, barulah pengguna sonor drums, Zildjian cymbals dan evans drumheads ini diajak bergabung dalam Ligro. Hendy melanjutkan kiprah bermusiknya sebagai drumer langganan konser (antara lain Kantata Takwa, konser ‘Dekade’ alm. Chrisye, konser Krisdayanti), sampai pada akhirnya bergabung dengan GIGI. Sentuhan rock Hendy dapat disimak di pembuka lagu “Saman Spot” sebelum Agam masuk ke tema lagu yang dimainkan dalam pola repetitif. Lagu itu khusus ditulis oleh keybordis Idang Rasjdi, yang disebut Agam sebagai salah seorang yang memberinya kesempatan belajar musik secara informal, selain kepada Jose Haryo Suyoto, Donny Suhendra, Harry Roesli (Alm), Eman Saleh, Fahmi Alatas dan Gideon Tengker. Dari tahun 2000 hingga sekarang, Agam bergabung dengan Idang Rasjidi di formasi kwartetnya.

Pembuka album adalah sebuah komposisi karya Adi Dharmawan. Bassis lulusan ISI Program S1 tahun 1997 ini menulis “Bliker 1” yang bercerita tentang krikil tajam. “Hati-hati jalan di krikil tajam,” pesan lagu itu. “Bliker” diawali permainan gitar yang melayang dan dilanjutkan eksplorasi Hendy sampai akhir lagu. Instrumen bass menjadi perantara dialog kedua instrumen itu. Bersama Yose dan Agam Hamzah, bassis Gitaris kelahiran Madura 15 Juli 1967 ini juga menulis lagu berjudul “Radio Aktif”, sebuah fusion dengan durasi terpanjang di album mereka.

Akhirnya, album “Ligro Dictionary I” trio genap dengan olesan mixing dan mastering Indra Lesmana. “Indra (Lesmana) mengalami sekali musik yang seperti Ligro (mainkan) dan dia juga pernah main lagu-lagu seperti ini. Jadi pas banget,” ujar Agam Hamzah, “Apalagi Indra dapat mengemasnya agar dapat masuk ke industri.” Maka simaklah ekspresi kebebasan tiga “orang gila” ini dalam sebuah paket dictionary jilid pertama.

Related Articles

5 Comments

  1. DEAR WARTA JAZZ TERIMA KASIH DENGAN ULASANNYA BWT LIGRO, SANGAT POSITIF UNTUK MEMPERKENALKAN LIGRO KE MASYRAKAT LUAS.. KPD REKAN2 MUSISI ATAU SIAPA SAJA YG MENYEMPATKAN “NYIMAK” MUSIKNYA LIGRO, SY TUNGGU KOMENT N KRITIKNYA..THX – SPECIAL REGARD TO Roulandi Siregar

  2. setuju…albumnya susah bet di dapetinnya…
    begitu denger….beuuhhh gahaarrr, mangstaabbb skaliii…
    bener2 orgil lahh…
    Jaya selalu Ligro trio

  3. Salut bwt punggawa LIGRO Band..gw udah beli cd albumnya..wuiiidiiih , dahsyat bngt maan musiknya…pokoknya “gilaaaa” banget aransemennya. To Gusti, Agam, and Adi keep up the goodwork guys..you’re the best musician. Bikin album kedua yang
    lebih dahsyaat lagi…now I’m a big fans…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
WhatsApp Perlu bantuan?