Review

D.F.A. (Duty Free Area) – 4TH

dfa 4th

D.F.A. (Duty Free Area) – 4TH
Moonjune Records 2009

Tracks:
1. Baltasaurus
2. Flying Trip
3. Vietato Generalizzare
4. Mosoq Runa
5. The Mirror
6. La ballata de s’isposa ‘e Mannorri

Musisi :
Alberto De Grandis : drums, percussion, vocals (track 5)
Alberto Bonomi : Hammond A-100 organ with Leslie 760, Fender Rhodes el. piano, Steinway acoustic piano, synths, flute
Silvio Minella : electric guitars
Luca Baldassari : bass guitar
Musisi tamu :
Andhira vocals (track 6) : Elena Nulchis, Cristina Lanzi, Egidiana Carta
Zoltan Szabo : cello (track 4 & 6)
Maria Vicentini : Biola & viola (track 4 & 6)

Mendengarkan album ini secara keseluruhan, terasa sekali pengaruh dari nuansa jazz fusion tahun 1970an,
dengan karakter struktur yang sangat kompleks dan rapi. Dimana drummer sekaligus penjaga beat band ini,
Alberto De Grandis didukung oleh sang keybordis Alberto Bonomi memang orang-orang yang mempunyai kapasi
tas sebagai player yang mempunyai feeling orkestrasi yang bagus. Sebagaimana terlihat pada track pertama
‘Baltasaurus’, pelan tapi pasti membentuk sebuah jamming section yang luar biasa. Dari track ini sudah
bisa dijadikan sampel bagaimana struktur musikalitas lagu-lagu di album ini. Contoh lain dari kematangan
konsep band ini, terlihat juga pada track no. 3 ‘Vietato Generalizzare’. Track yang sangat kompleks,
instrument meluap di sana sini, tidak terduga dan mereka membuat alur lagu di dalamnya dengan komposisi
yang seimbang.

Pada track ‘Mosoq Runa’ mereka lebih fokus pada improvisasi dari piano dan gitar dengan alur lagu yang
berliku-liku. Piano dimainkan pada intro lebih cenderung ke klasik dan pada tengah-tengah lagu ini
adalah improvisasi yang banyak di dominasi oleh lead gitar yang kemudian secara mendadak di tutup oleh
piano klasik sebagai outro. Sebuah track yang menarik untuk disimak. Selain itu juga terdapat kolaborasi
yang melibatkan vokal trio, Andhira. Pada track terakhir ini terdapat kesan sebuah penegasan bahwa
lagu-lagu di album ini bisa berintegrasi secara baik dengan vokal manusia. Karena memang pada lagu-lagu
sebelumnya terkesan tidak ada pattern-pattern yang bisa diintegrasikan dengan vokal.

Album ini memang secara tidak sengaja semakin membuat karir kuartet asal Italia ini semakin menanjak naik.
Mungkin album ini bisa dianggap salah satu album Progressive Rock terbaik 2008. Walaupun intensitas
bermusik dan jadwal show DFA sudah agak mulai berkurang karena semua personel band ini disibukkan dengan
pekerjaan dan keluarga masing-masing.

(Sofyan Hadi)

Ajie Wartono

Memimpin divisi Projects & Event Management. Pernah mengikuti Dutch Jazz Meeting di Amsterdam, Belanda. Selama dua tahun dipercaya menjadi Ketua Festival Kesenian Yogyakarta (2007, 2008) selain sebagai Program Director, Bali Jazz Festival dan Ngayogjazz

Related Articles

One Comment

  1. Saya sempeat menyaksikan DFA,live in concert in Hardrock Jakarta dan berkesempatan ngobrol dengan Alberto Grandis.Alberto sangat mengagumi drummer2 seperti Chad wakerman,tommy igoe,billy cobham dan simon philips (rata2 pemusik ini memang sangat kuat akar jazz).
    Dari sisi penampilan musik mereka, tentu saja berkualitas diatas rata-rata, tapoi sayang nya penampilan mereka tidak banyak disaksikan karena minimnya promosi dan para penonton juga terlalu lama menunggu band2 bocah dari German School manggung (musik nya jelek banget)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker