Review

Aziza Mustafa Zadeh – Contrasts

Aziza Mustafa Zadeh – Contrasts

01 Singing Nature (Aziza Mustafa Zadeh)
02 Night Life in Georgien (Aziza Mustafa Zadeh)
03 Stars Dance (Aziza Mustafa Zadeh)
04 Dreaming Sheherezadeh (Aziza Mustafa Zadeh)
05 Bachuana (Aziza Mustafa Zadeh)
06 Last Day of Chopin (Aziza Mustafa Zadeh)
07 Past of Future (Aziza Mustafa Zadeh)
08 Contrasts (Aziza Mustafa Zadeh)
09 Egocentric Bumble-Bee (Nikolai Rimsky-Korsakoff/Aziza Mustafa Zadeh)
10 Jazzerei in Träumerei (Robert Schumann/Aziza Mustafa Zadeh)
11 Bolero (Maurice Ravel/Aziza Mustafa Zadeh)
12 The Way to the Palace (Aziza Mustafa Zadeh)
13 The Mirror of the Miracles (Aziza Mustafa Zadeh)
14 The Nightingale & The Rose (Nikolai Rimsky-Korsakoff/Aziza Mustafa Zadeh)
16 Cloudy Evening (Aziza Mustafa Zadeh)

Aziza Mustafa Zadeh - Contrasts
Aziza Mustafa Zadeh - Contrasts

Bersiaplah untuk tertawa, marah, kagum, bahkan menangis ketika memutar trek demi trek di album ini. Lima belas buah karya impresif dari Aziza Mustafa Zadeh, pianis-vokalis-komposer  asal Azerbaijan akan memberi pengalaman auditif tak terlupakan. Semua itu terlaksana berkat kompetensi artistik Aziza yang istimewa, maka dari itu sangatlah pantas predikat Die Prinzessin des Jazz (The Princess of Jazz) diberikan padanya.

Bakat seni Aziza adalah warisan dari ayah bernama Vagif Mustafazadeh, pianis/komposer Azerbaijan yang dikenal akan kiprahnya memadukan jazz dan Muğam (musik tradisional Azerbaijan); dan ibunya, Eliza yang merupakan penyanyi klasik asal negara Georgia. Vagif wafat pada bulan Desember 1979, waktu usia Aziza belum genap sepuluh tahun. Kehilangan figur ramanda, tak membuat “Sang Putri” patah arang, ia justru semakin giat mengasah jiwa artistik dengan dukungan ibunya yang kala itu memilih untuk melepas karir demi sang anak. Alhasil, di tahun 1988 Aziza merebut tempat ketiga berbagi tempat dengan Matt Cooper dalam kompetisi piano diadakan oleh Thelonious Monk Jazz Institute di Washington, D.C. dan selanjutnya ia pindah ke Jerman untuk berkarir.

Contrasts adalah album kedelapan Aziza yang tampak seperti bagian pertama sebuah dwilogi ketika bersanding dengan album kesembilan Contrasts II: Opera Jazz (Jazziza Records, 2007). Di dalamnya terdapat untaian komposisi baik ciptaanya maupun interpretasi atas musik klasik barat, secara kontras ia sajikan lewat permainan piano dan atau olah vokal operatik yang menjadi ciri khasnya. Solo piano dalam “Singing Nature” tercetus sebagai mukadimah menyiratkan tembang syukur atas keindahan alam. Rekognisi terhadap geliat malam Georgia, kampung halaman ibunda, ia nyanyikan dengan halus dihiasi taburan suara piano liris pada nomor “Night Life in Georgia”. Ajakan untuk menari bersama bintang dapat disimak di komposisi “Stars Dance” lewat unison vokal dan piano yang presisi. Introduksinya terdengar seperti komposisi Le Carnaval des Animaux (The Carnival of the Animals) bagian XIV: Finale dari Charles Camille Saint-Saëns.

Preferensi musik klasik barat terwujud antara lain pada nomor bertempo cepat “Bachuana” yang menunjukkan kecanggihan Aziza menafsirkan gaya komposisi polifonis-kontrapungtal Johann Sebastian Bach, komponis masyhur era Barok. Namun sentuhan alur melodi khas Azerbaijan membuatnya unik, mengalir tanpa henti dengan awalan seperti “Perpetuum Mobile” milik Ottokar Novacek. Pendengar yang peka dan terlibat secara emosional tak akan kuasa menahan titik air mata sewaktu menyimak “Last Days of Chopin” sebagai bentuk dedikasi Aziza kepada Frédéric Chopin. Jalinan melodi, harmoni, dan tempo yang meremang, terasa seperti siklus Nocturne ataupun Ballade – pilu dan merana, sekaligus indah. Reminisensi melankolia dimainkan Aziza dalam “Jazzerei in Träumerei”, rendisi atas “Träumerei” (lamunan) gubahan Robert Schumann terambil dari Kinderszenen (Scenes from Childhood), Op. 15 seolah merupakan impresi masa kecil Aziza bersama sang ayah.

Dua buah gubahan komposer Russia Nikolai Rimsky-Korsakoff turut ditampilkan, yang pertama adalah “Egocentric Bumble-Bee” terinspirasi dari “Flight of the Bumblebee” terkenal akan tingkat kesulitan tinggi lewat nada-nada kromatis namun Aziza menjawab tantangan dengan tak hanya bermain piano saja, ia memamerkan performa olah vokal dahsyat sejajar unison bersama pacuan melodi yang melaju pesat! Kedua berjudul “The Nightingale & The Rose”, bentuknya seperti Lieder (“lagu” pada era Romantik) kental dengan nuansa ketimuran nan eksotis. Dalam “Bolero” milik Maurice Ravel, Aziza malah menampilkan siasat pianistik khas Franz Liszt menggelegar sejalan dengan harmonisasi vokal yang cemerlang.

Disertakan pula beberapa komposisi otentik Aziza Mustafa Zadeh semisal “Past of Future” yang paradoksal, “Contrasts”, “The Mirror of Miracles”, juga sajian musik naratif “The Way to the Palace” sepintas mengingatkan akan gaya bermain piano Keith Jarret. Selain itu, dapat disimak pengaruh kemasygulan Tango Nuevo dalam “Dreaming Sheherezadeh” lewat progresi mirip “Oblivion” kepunyaan Ástor Piazzolla yang menyayat hati.

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker