Review

Aziza Mustafa Zadeh – Contrasts II: Opera Jazz

Aziza Mustafa Zadeh – Contrasts II: Opera Jazz

01. Introduction (Aziza Mustafa Zadeh)
02. Mozart’s Jazz Ballade (Aziza Mustafa Zadeh/Wolfgang Amadeus Mozart)
03. Guarding Dreams (Aziza Mustafa Zadeh)
04. The Queen of the Night (Aziza Mustafa Zadeh/Wolfgang Amadeus Mozart)
05. Gothic Jazz (Aziza Mustafa Zadeh/Georg Friedrich Händel)
06. Red in Black (Aziza Mustafa Zadeh)
07. If You Love Me (Aziza Mustafa Zadeh/Alessandro Parisotti – Giovanni Battista Pergolesi)
08. Bachmania (Aziza Mustafa Zadeh)
09. Do Not Tell Me (Aziza Mustafa Zadeh/Wolfgang Amadeus Mozart)
10. One Day, Perhaps (Aziza Mustafa Zadeh/Wolfgang Amadeus Mozart)
11. Lonely Dolphin (Aziza Mustafa Zadeh)
12. Barabashka (Aziza Mustafa Zadeh)
13. Peace, Peace, My God (Aziza Mustafa Zadeh/Giuseppe Verdi)
14. Two Brothers (Aziza Mustafa Zadeh)

Aziza Mustafa Zadeh - Contrasts II

Apa jadinya kalau jazz bersanding dengan opera? Jawabannya pasti akan beragam. Menilik perkembangan musik di abad ke-20 pertanyaan tadi telah ditanggapi oleh beberapa komposer semisal Ernst Krenek dengan Jonny Spielt Auf (Jonny Plays On) yang dipentaskan perdana di Leipzig Februari 1927 – berujung pencekalan oleh pihak Nazi berdasarkan kontennya (waktu itu jazz dianggap degeneratif!); George Gershwin lewat mahakarya Porgy and Bess (1935); serta Kurt Weill yang berkongsi dengan dramawan Bertolt Brecht menghasilkan The Threepenny Opera (judul asli: Die Dreigroschenoper, 1928) dimana salah satu lagu bertajuk “Die Moritat von Mackie Messer” selanjutnya termasuk dalam komposisi jazz standar dikenal sebagai “Mack the Knife”.

Selaras berjalannya waktu, sekarang kita berada di abad ke-21 lewat satu dekade dan pertanyaan di atas terjawab oleh Aziza Mustafa Zadeh lewat album kesembilan Contrasts II: Opera Jazz. Jika dahulu garapan opera jazz bernuansa politis, terkesan serius, dan melibatkan orang banyak untuk bisa terwujud, lain halnya dengan Aziza. Dengan memiliki keahlian jamak, ia hanya butuh satu orang saja: dirinya sendiri. Segala kerumitan opera ditampilkannya melalui permainan piano versatil, teknik bernyanyi yang spektakuler, hingga komposisi memikat – secara komprehensif.

Album Contrasts II merupakan kelanjutan dari bunga rampai karya sebelumnya, Contrasts (Jazziza Records, 2006) dengan formula tak jauh berbeda memadukan “kontradiksi” jazz, musik klasik barat, dan Muğam namun pada album ini titik beratnya adalah opera yang membuat Contrasts II terasa dramatis. Isinya adalah 14 trek terbagi rata atas tujuh komposisi Aziza dan tujuh rendisi aria (lagu dalam sebuah opera) populer dari opera-opera ternama.

Nomor pembuka “Introduction” berfungsi layaknya sebuah overture yang bergaya seperti komposisi kontrapungtal khas era Barok, perlakuan serupa juga tampak dalam “Bachmania” sebagai bentuk salut kepada Johann Sebastian Bach, uniknya dimainkan dengan pola ritmik hitungan lima. Nuansa oseanik menggambarkan  desir ombak dan keterasingan tertuang pada “Lonely Dolphin” lewat denting piano ilustratif. Selain musik, ternyata Aziza pun menaruh minat pada bidang seni lukis, hasil karya (lukis)nya dapat dilihat dalam booklet album Shamans (Decca Records, 2002). Kecintaannya ini terwujud manakala terdengar “Red in Black” yang bersukat 9/8 (silakan menghitung ritmenya dengan aksen 2+2+2+3 – one-two, one-two, one-two, one-two-three) sembari berimajinasi tentang “pertarungan” antara warna Hitam dengan Merah. Sedangkan “Two Brothers” merupakan dedikasi kepada dua pelukis, Niko Pirosmanashvili (Georgia), dan Sattar Bahlulzade (Azerbaijan). Sattar menganut impresionisme dan panoramik, sementara Niko adalah seorang primitivist lewat karya-karya bercorak naif, potret diri mereka terlukis penuh kesan oleh Aziza.

Musik dan seni lukis sepertinya tak cukup untuk menampung ekspresi seni seorang Aziza Mustafa Zadeh. Ia seringkali mengisi waktu senggang dengan menari, dan referensi tersebut ada di komposisi “Barabashka” dan “Guarding Dreams” mengajak badan untuk bergoyang.

Tembang berjudul “Se tu m’ami, se sospiri” (If you love me, if you sigh) sebetulnya merupakan buntut keisengan Alessandro Parisotti (1853-1913), editor musik/komposer Italia  selaku penulis asli lagu tersebut yang seringkali disalah-alamatkan kepada komponis era Rococo Giovanni Battista Pergolesi (1710-1736). Terlepas dari itu, Aziza tampil mengesankan waktu menyanyikan “If You Love Me” dengan iringan piano oleh dirinya sendiri. Diksi Italia Aziza sangatlah baik, menunjukkan bahwa ia serius mengasah kemampuan olah vokalnya. Lagu ini ia tujukan untuk menghormati seorang penyanyi sopran Italia, Claudia Muzio (1889-1936) yang hidup ketika teknologi rekaman masih dalam tahap awal. Penampilan Claudia sempat direkam menggunakan media silinder fonograf oleh Pathé Records (didirikan oleh Charles dan Émile Pathé) dan Edison Records milik Thomas Alva Edison.

Diva opera sepanjang masa asal Yunani, Maria Callas pun menjadi obyek sanjungan Aziza yang ia sampaikan lewat “Peace, Peace, My God” bernuansa patetis. Singkat cerita, nomor tersebut adalah aria berjudul “Pace, pace mio Dio!” memaparkan kisah tragis Leonora yang ditikam oleh kakaknya sendiri, terambil dari bagian akhir opera era Romantik La forza del destino (The Force of Destiny) kepunyaan Giuseppe Verdi. Ucapan syukur sang raja Persia, Xerxes Agung (519-465 SM) atas keteduhan rindang pepohonan dinyanyikan Aziza melalui “Gothic Jazz” bernuansa elegi. Pada ranah musik klasik, komposisi ini dikenal dengan “Ombra mai fù” (Never has there been a shade), aria pembuka dalam opera Xerses, salah satu karya komposer Barok Georg Friedrich Händel.

Wolfgang Amadeus Mozart sungguh adanya selaku penggubah opera yang fertil dan inovatif. Di album ini terdapat tiga buah aria dari opera berbeda yang ditafsir ulang oleh Aziza. “Do Not Tell Me” dan “One Day, Perhaps” dikutip berdasarkan aria “Non mi dir” (Say me not) untuk peran utama Donna Anna dalam opera Don Giovanni (Don Juan). Indahnya jalinan melodi dan harmoni tercipta lewat kelenturan jemari serta pita suara Aziza yang puncaknya berada pada bait “Forse un giorno il cielo ancora, sentirà pietà di me” (One day, perhaps, Heaven again will smile on me) melalui penerapan teknik bernyanyi bel canto. Dendam kesumat berapi-api terasa membakar amarah waktu menyimak “The Queen of the Night” yang aslinya bertajuk “Der Hölle Rache kocht in meinem Herzen” (Hell’s vengeance boils in my heart) tercantum di opera Die Zauberflöte (The Magic Flute). Lagi-lagi Aziza tampil menyilaukan ketika dengan entengnya ia melibas frase-frase coloratura spesifik – mencapai pitch F6! Ditambah atraksi piano layaknya sebuah orkestra yang berperan efektif sebagai penguat dramatisasi.

Balada romantis “Mozart’s Jazz Ballad” menunjukkan bisikan vokal liris melebur dengan iringan piano ilustratif bak sebuah komposisi jazz ballad. Orang yang mendengar untuk pertama kalinya mungkin tak akan percaya bahwa lagu tersebut adalah kreasi Aziza atas aria Countess Rosina Almaviva “Porgi, amor, qualche ristoro” (Grant, love, some comfort) dari opera empat babak Le Nozze di Figaro (The Marriage of Figaro) gubahan Mozart tahun 1786. Ah, Aziza memang hebat!

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker