Review

Shadow Puppets – Extended Play

Empat Pemain, Empat Trek, dan (Hampir) Empat Puluh Menit Melintas…

Shadow Puppets - Extended Play
Shadow Puppets - Extended Play

Lebih banyak belum tentu lebih enak. Itulah impresi yang muncul setelah menikmati keseluruhan olah bunyi pada album ini. Isinya (hanya) empat buah trek, namun justru dalam keempat buah karya tersebut, integritas dan kesungguhan proses kreatif mereka tetap terjaga. Jauh lebih baik daripada jumlahnya banyak tetapi serampangan. Tidak percaya? Silakan buktikan dengan menyimak sedari awal hingga akhirnya.

Shadow Puppets dibentuk oleh empat pemusik muda berbakat, Irsa Destiwi (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Yusuf Shandy Satya (drum). Di album perdana bertajuk Extended Play mereka mencoba untuk berkreasi pada ranah straight-ahead jazz secara komprehensif. Interaksi musikal berupa improvisasi dialogis adalah kata kunci untuk menjelaskan daya pikat album ini.

Trek pembuka “Errands to Run” langsung membuat jatuh hati. Tema yang sangat sederhana pertama kali terucap lewat denting piano halus mengalun bersama petikan kontrabas dan detak ritmis drum dalam hitungan 5/4, mengawali gerak langkah bersahaja. Alur cerita kemudian diambil alih oleh gitar untuk selanjutnya masing-masing menyampaikan kalimat musik dalam bentuk improvisasi secara imbang dan elegan. Komposisi ini digubah oleh Irsa yang begitu cerdik menjalin untaian nada, irama, dan harmoni sehingga musiknya terasa naratif.

Idiosinkrasi seorang Thelonious Monk mengilhami Robert untuk mencipta “Monkisms”. Kentara bahwa ia mengadopsi tema “Blue Monk” dengan kreatif serta terasa sekali ciri khas Monk lewat harmoni disonan, akor tajam, dan frase-frase berliku. Nomor ini mengayun santai berkemas irama swing, durasi sebelas menit menampung percakapan interpersonal dengan santun.

Gubahan ketiga “Yusuf Hamdani” melaju kencang penuh greget serta tampak referensi Sufisme di dalamnya, mengingat Hadrat Abu Yaqub Yusuf Hamdani ialah Mahaguru sekaligus pemrakarsa gerakan Sufi di Asia Tengah abad ke-10. Musik Sufi yang repetitif diwakilkan oleh rentakkan drum Yusuf secara konstan memegang kendali ritme dengan presisi.

Irsa kembali menampilkan kecanggihan teknik komposisi pada trek penutup “Those Five Days” lewat pengolahan tema deskriptif. Nomor ini juga menunjukkan indahnya melodi sewaktu Indrawan mencuri atensi dengan gesekan kontrabas, didukung pula oleh landasan harmoni denting piano Irsa. Selanjutnya Robert angkat bicara dalam beberapa birama, hingga komposisi tersebut lambat laun memudar dengan pemulangan tema utama melalui permainan piano minimalis sampai musik benar-benar berhenti.

Anda yang tertarik membeli album ini silakan mengontak Redaksi WartaJazz di alamat info@wartajazz.net atau hubungi 021-8310769

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker