Review

Dennis Rea – Views from Chicheng Precipice

Pesan Cinta oleh Dennis Rea untuk (Tradisi) Cina

Album : Views from Chicheng Precipice
Label   : MoonJune Records, 2010

1. Three Views From Chicheng Precipice (after Bai Juyi)
2. Tangabata
3. Kan Hai De Re Zi (Days by the Sea)
4. Aviariations on “A Hundred Birds Serenade the Phoenix”
5. Bagua (Eight Trigrams)

Dennis Rea_Chicheng
Dennis Rea - Views From Chicheng Precipice

Setiap kebudayaan di dunia tentu memiliki keunikan tersendiri, itulah yang membedakan satu dengan lainnya. Dalam kacamata orang Barat pada umumnya, kebudayaan Timur dianggap sebagai sesuatu yang mistis, irasional, eksotis, dan celakanya; submisif – berujung pada kolonialisme dan imperialisme. Namun tidak demikian halnya dengan seorang bernama Dennis Rea. Ia melihat kebudayaan Timur (dalam konteks ini Cina) merupakan sebuah entitas yang adiluhung, terlihat dari bagaimana ia menaruh respek atas musik Cina dengan menekuni pakem-pakem tradisi – untuk selanjutnya digarap dalam semangat kekinian. Ikhtiar tersebut diwujudkan pada album Views From Chicheng Precipice ini.

Dennis sempat bermukim di Cina dan Taiwan antara tahun 1989 – 1996, tatkala situasi politik negara itu sedang bergolak. Di rentang waktu itu pula dirinya menjadi pengajar Bahasa Inggris sembari berinteraksi musikal dengan para seniman musik di tanah Mandarin  tersebut. Selain sebagai musikus, Dennis pun adalah seorang pengarang jempolan. Memoar tentang pengalaman (musikal dan non-musikal) tersurat dalam Live at the Forbidden City: Musical Encounters in China and Taiwan (iUniverse, Inc., 2006).

Terdiri atas lima trek, dengan sebuah komposisi orisinil Dennis dan empat gubahan aransemen tradisional, album ini menampilkan sesuatu yang kontras: kuno dan kini secara bersamaan! Musiknya eksperimental namun tetap membawa semangat tradisi dengan radikal.

Nomor pembuka adalah “Three Views From Chicheng Precipice”, komposisi Dennis yang terinspirasi dari sajak Bái Jūyì (772-846), pujangga di masa Dinasti Tang. Introduksi mengalun halus lewat gesekan biola dan petikan gitar seolah meniupkan udara dataran tinggi Chicheng serta elok alamnya. Dibawakan dengan kemayu dan teratur, namun sampai di tengah komposisi, keteraturan itu dirombak lewat penguraian struktur kalimat musiknya untuk masing-masing personil berimprovisasi bebas. Pukulan drum inkonsisten serta ragam suara elektronis menjadi daya tarik tersendiri, seolah mengantarkan “petualangan bunyi” menuju empat nomor berikutnya.

Dilanjutkan dengan “Tangabata” yang mengalir lambat, berkesan meditatif dan elusif. Berdurasi hampir enam belas menit, nomor ini memuat hembusan trombone, klarinet bas, dan shakuhachi berpadu garapan elektro-akustik. Trek ketiga “Kan Hai De Re Zi (“Days By the Sea”)” terasa lebih dinamis secara ritmik, kuat bernuansa art rock waktu Dennis ambil bagian solo gitar. Sementara pada “Aviariations on “A Hundred Birds Serenade the Phoenix” bisa disimak kedahsyatan vokal Caterina de Re. Ia begitu ekspresif mengolah pita suara hingga bunyinya sangat mirip dengan bermacam jenis burung. Aura mistis terdeteksi ketika Dennis memasukkan unsur musik elektronik bergaya György Ligeti ataupun Karlheinz Stockhausen.

Trek penutup “Bagua (Eight Trigrams)” secara eksplisit mengacu pada spiritualitas kosmologi Tao. Keseimbangan ditunjukkan dalam peleburan dua hal kontradiktif; keteraturan dan kekacauan – hitam dan putih menjadi abu-abu. Komposisi ini menampilkan eksplorasi pelbagai instrumen berdawai seperti gitar, koto, baliset, biola, cello, dan bau, juga kalimba yang berlatar suara-suara sintetis dalam kerangka musik aleatorik khas John Cage.

Ada baiknya untuk menyimak kutipan Dennis Rea perihal album terbarunya ini, “Dalam merumuskan aransemen komposisi Cina, Taiwan, dan Asia Timur minoritas favorit saya pada album ini, saya lebih mengutamakan pakem tradisional, semisal membatasi pemain pada tangga nada tertentu serta menghindari penggunaan harmoni musik Barat. Di lain pihak, saya coba ambil resiko dalam penafsiran musik tradisi – harmonisasi pada beberapa frase, instrumentasi yang tidak biasa, serta menyertakan noise, nada-nada kromatis, improvisasi bebas, dan amplifikasi – sembari tetap mengacu kepada semangat tradisi tersebut. Proyek ini adalah “surat cinta” kepada belahan dunia yang telah memberikan kelimpahan tak terhingga dalam hidup saya, baik secara musikal maupun hal menarik lainnya.”

Personil:

Dennis Rea: gitar elektrik, melodica, Naxi jaw harp, dan bau, kalimba
Alicia Allen: violin
Greg Campbell: drum, perkusi
Ruth Davidson: cello
James DeJoie: flute bas, seruling bambu, klarinet bas
Caterina de Re: vokal
Stuart Dempster: trombone, conch shell
Will Dowd: drum, perkusi
Elizabeth Falconer: koto
John Falconer: shakuhachi
Jay Jaskot: drum
Paul Kikuchi: perkusi
Kevin Millard: baliset

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker