Review

Joshua Redman – Back East

Album   : Back East
Label    : Nonesuch Records, 2007

01. The Surrey with the Fringe on Top (Richard Rodgers / Oscar Hammerstein II)
02. East of the Sun (and West of the Moon) (Brooks Bowman)
03. Zarafah (Joshua Redman)
04. Indian Song (Wayne Shorter)
05. I’m an Old Cowhand (Johnny Mercer)
06. Wagon Wheels (Peter De Rose/ Billy Hill)
07. Back East (Joshua Redman)
08. Mantra #5 (Joshua Redman)
09. Indonesia (Joshua Redman)
10. India (John Coltrane)
11. GJ (Joshua Redman)

Joshua Redman - Back East
Joshua Redman – Back East

Guna memafhumi pesan yang tersirat di album ini, perlulah kiranya untuk menilik pada perturutan jazz era pasca Perang Dunia II. Mengapa demikian? Sebab di masa itu, berlangsung transisi dalam perkembangan jazz (Amerika Serikat) sebagai reaksi atas bebop. Secara garis besar, ada dua “kutub” yaitu cool jazz – dianggap antitesis bebop yang cenderung agresif – dengan beat kalem, “main halus”, dan rileks; selanjutnya terintegrasi menjadi West Coast jazz yang tumbuh subur di kota San Francisco dan Los Angeles. Pada waktu bersamaan di kawasan pantai timur (New York), muncul gaya hard bop sebagai ekstensi bebop lewat imbuhan elemen R&B, musik gospel, dan blues – dikenal dengan istilah East Coast jazz. Fakta menarik bahwa pemrakarsa cool jazz mayoritas adalah ras kulit putih (Gil Evans, Gerry Mulligan, Chet Baker, dan Dave Brubeck, diantaranya), sedangkan hard bop didalangi oleh musisi jazz Afro-Amerika semisal Horace Silver, Art Blakey, Clifford Brown, serta Max Roach.

Paragraf di atas baru mengungkap salah satu aspek “timur” album Back East milik saksofonis/komposer Joshua Redman ini. Ketika album ini diproduksi, Joshua adalah Direktur Artistik juga saksofonis tenor (bersama Joe Lovano) dalam SFJAZZ Collective (San Francisco) periode 2004-2007. Lantas, apa maksud judul “Back East” tersebut? Pertama, album ini menyampaikan reminisensi Joshua atas pengalaman masa lampau ketika ia merintis karir di “timur” yang merujuk pada kota New York dan Boston (Joshua lahir di “barat” – Berkeley, California – red.). Selagi disana, ia rutin untuk manggung bersama sederet rekan musisi (beberapa diantaranya tampil dalam album ini) pada kelab, bar, dan restoran lokal yang semakin mengasah bakat musiknya. Kedua, “Back East” adalah kultivasi endapan memori masa kecil Joshua, “sewaktu kanak-kanak, ibu (Renee Shedroff) pernah mengajak saya ke sebuah tempat bernama Center for World Music di Berkeley, dimana saya sempat mempelajari dasar-dasar perkusi India bagian Selatan serta gamelan. Ibu juga membawa saya untuk menyaksikan aneka pertunjukan tari dan musik India, Indonesia, Persia, Afrika, Jepang, Tibet, dan lain-lain,” ujarnya.

Dalam Back East, Joshua Redman tampil lewat formasi piano-less trio (saksofon, kontrabas, drum) yang digagas oleh Sonny Rollins pada era 1950-an melalui album Way Out West (Contemporary Records, 1957). Dua trek di album tersebut kembali hadir pada Back East, “I’m an Old Cowhand” dan “Wagon Wheels”. Bermain trio tanpa piano memberikan keunikan tersendiri, terutama dalam perspektif harmoni yang menyediakan banyak kemungkinan sekaligus tantangan. Maka dari itu Joshua menggandeng Larry Grenadier dan Ali Jackson, Christian McBride dan Brian Blade, serta Reuben Rogers dan Eric Harland sebagai kontrabasis dan drummer. Iapun mengajak Chris Cheek, Joe Lovano, dan sang ayah, mendiang Dewey Redman (1931-2006) selaku peniup saksofon.

Nuansa Hindustan kentara sekali waktu menyimak “Zarafah” yang mengadopsi rāga serta pukulan drum mirip tabla. Pada nomor ini terdapat aksi Christian McBride yang memikat. Selanjutnya adalah “Indian Song” milik Wayne Shorter, menampilkan tandem saksofon tenor Joshua dengan Joe Lovano secara virtuosik. Ada pula “Mantra #5”, komposisi orisinil Joshua, ia tampak berduel dengan Chris Cheek. Ayahanda Dewey Redman berdialog seru dengannya lewat interpretasi memukau atas “India” gubahan John Coltrane. Eksotisme ketimuran makin kental terasa dalam “Indonesia”, terdengar Joshua mengolah elemen gamelan Jawa lewat modus pelog dan slendro, ditambah hentakan perkusi menyiratkan kemeriahan kendang Bali. Format piano-less trio dibawa menuju taraf paripurna dalam trek “Back East” sembari menerakan versatilitas Joshua, Reuben, dan Eric. Nomor terakhir “GJ” adalah kado spesial oleh almarhum Dewey untuk cucunya maupun Joshua. Dewey memainkan saksofon alto bergaya avant-garde dan itu merupakan perjumpaan sekaligus rekaman terakhirnya bersama Joshua.

Performa Joshua memang dahsyat, dengan pengalaman segudang (ia adalah pemenang Thelonious Monk International Jazz Saxophone Competition tahun 1991) dirinya kini seolah pembawa “obor” yang sebelumnya berada di tangan John Coltrane, Stan Getz, Dexter Gordon, dan Michael Brecker. Melalui album Back East, suluh itu makin bersinar terang.

Personil:

Joshua Redman (saksofon tenor, trek 1, 2, 4, 5, 7, 9, 10; saksofon sopran, trek 3, 6, 8.)
Larry Grenadier (kontrabas, trek 1, 2, 8-11)
Ali Jackson (drum, trek 1, 2, 8-11)
Reuben Rogers (kontrabas, trek 5-7)
Eric Harland (drum, trek 5-7)
Christian McBride (kontrabas, trek 3&4)
Brian Blade (drum, trek 3&4)

Chris Cheek (saksofon tenor, trek 8.)
Joe Lovano (saksofon tenor, trek 4)
Dewey Redman (saksofon tenor, trek 10; saksofon alto, trek 11)

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker