Review

Grace & Tesla – Grace & Tesla

Album : Grace & Tesla
Label : ,2010

1. Deru
2. Intervention
3. Dear Mom
4. The Coincidence Fever

Pada album produksi sendiri ini (tanpa label), baik trek maupun pemainnya berjumlah empat. Adalah Grace Sahertian (vokal), Tesla Manaf Effendi (gitar, synthesizer, perkusi), Fahri Ludin (biola), dan Argo Cahyadi (tarompet pencak) yang berpetualang bunyi dengan konsep musik kamar, balada, dan olah vokal bergaya folk-kontemporer. Selaku gitaris, Tesla dikenal publik atas kiprahnya pada Karinding Collaborative Project, sebuah grup dengan preferensi musik etnik pun world music. Ia juga tergabung dalam G/E/T, trio beranggotakan [G]allang Perdana Dalimunthe/[E]dward Manurung/[T]esla Manaf Effendi yang mewarnai geliat jazz kota kembang. Pelantun di album Grace & Tesla bernama lengkap Grace Carolline Sahertian, asal Bandung. Pecinta jazz di kota itu lebih dulu mengenal dirinya bersama grup Palm From Moodytunes dengan garapan swing pop-soul-nu groove. Tak dapat dipungkiri, album ini bernuansa serupa dengan Upojenie (Nonesuch Records, 2008), proyek kolaborasi Anna Maria Jopek dan Pat Metheny.

Trek pertama berjudul “Deru” terkesan elusif, dengan penggalan tema mengarah kepada musik serialisme dibunyikan unison oleh vokal dan gesekan biola disertai petikan gitar sebagai landasan harmoni. Dalam “Intervention”, banyak digunakan elemen bunyi choir ensemble sintetis serta di bagian tengah komposisi selama hampir sepuluh menit ini terdapat solo biola melodius sarat keheningan. Nomor berdurasi terpanjang adalah “Dear Mom”, bergaya episodik yang memakan waktu lebih dari tiga belas menit. Lagi-lagi memakai synthesizer sebagai imitasi suara-suara alam (misalkan sura burung, deru ombak, percikan air, dan lain-lain) menimpali vokal Grace yang bercerita. Menjelang akhir lagu, sekilas terdengar pengolahan laras pelog (dalam diatonis F Mayor – B♭-A-F-C) secara unison-repetitif oleh vokal dan biola mengiringi gitar yang berimprovisasi hingga birama terakhir.

Sebagai penutup adalah komposisi “The Coincidence Fever”, lewat introduksi synthesizer, perkusi, dan aneka olah bunyi gitar yang tidak biasa, sementara Grace cukup dengan menirukan suara burung. Aksennya adalah ketika instrumen tradisional tarompet pencak mulai ditiupkan. Entah disengaja atau tidak, frasenya seperti orang baru belajar tarompet, bunyinya dibenturkan dengan iringan gitar yang sepertinya bermaksud menghadirkan suasana misterius sedikit seram. Pada bagian akhir dapat disimak teknik “telan suara“ (death growl) yang biasa ditampilkan vokalis-vokalis band death/black metal oleh Grace sembari tertawa angker dengan nafas terengah-engah, mengisyaratkan sebuah kengerian – dalam bahasa Harry Potter: kecupan Dementor.

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker