Review

The Pyramids – Otherworldly

Album: Otherworldly
Label: Cultural Odyssey, 2011

01. Memory Ritual
02. Time Capsule
03. What the World Needs Now
04. Nebulosity
05. Nebulosity Part 2
06. Uttering Sacred Words
07. Cloud Rider
08. Boundless Eternities
09. Absolution
10. Ancient Funk!
11. Otherworldly
12. They Came from Chicago
13. St. Louis Two!
14. Reincarnation
15. Memory Ritual (Extended Version)

The Pyramids - Otherworldly
The Pyramids - Otherworldly

Berjarak 35 tahun lebih sejak album terakhir, adalah waktu vakum yang cukup lama bagi The Pyramids, band yang dibentuk 1972 di Besançon, Perancis. Sekarang grup ini kembali beredar di dunia rekaman maupun gelaran tur konser di seluruh dunia, dengan konfigurasi personil dan sound baru.

“They play to make music fire!” adalah slogan The Pyramids, meramu pelbagai sumber bunyi tradisional Afrika dan benua lain dengan musikalitas bervisi modern garda depan. Ada pula yang mendefinisikan “deeply spiritual Afro psychedelic music.” Preferensinya melebar, dari Sun Ra, Art Ensemble of Chicago, Albert Ayler, hingga John Coltrane.

Di album Otherworldly, dedengkot grup Idris Ackamoor dengan instrumen mayor saksofon alto, berinteraksi dengan kawan musisi Kash Killion, Kimathi Asante, Kenneth Nash, pula Bradie Speller. Hasilnya berbentuk sebuah dialog musikal menarik yang melabrak tradisi dan modernitas.

Simak “Memory Ritual” yang ditampilkan layaknya sebuah ritus sembari mengenang Pharoah Sanders, juga “Time Capsule” lewat sentuhan mbira, kalimba, seruling bambu, gong, serta calypso box kental bernuansa etnik. “Nebulosity” sejatinya adalah swing, terhias semburan liar saksofon alto oleh Idris. Pada “Uttering Sacred Words,” terdengar duel perkusi Bradie dan Kenneth yang energik.

Acuan terhadap Cecil Taylor Black Music Ensemble bisa didengar dalam “Cloud Rider,” menyertakan permainan bas ganda ostinatik Kash dan Kimathi. Olah tekstur disonan nampak pada “Boundless Eternities” sedangkan trek “Ancient Funk” hadir penuh goyangan. Title track “Otherworldly” lain lagi ceritanya. Menggunakan didgeridoo Australia, komposisi ini terkesan misterius pula asing, namun sekaligus menggelitik persepsi.

Interplay penuh intrik gesekan kontrabas dan drum set, tersaji menarik atas trek “St. Louis Two!” dengan penampil Kash dan Kenneth – inventif, komik, dan teatrikal. Ketukan tap dancing (keahlian lain Idris), menjadi basis komposisi “Reincarnation” yang menyertakan pula bacaan puisi, memaknai sejarah penyebaran ritmis Afrika di dunia.

Personil

Idris Ackamoor: saksofon alto, perkusi
Kash Killion: cello, kontrabas, bas elektrik, perkusi
Kimathi Asante: bas elektrik, perkusi
Kenneth Nash: drum, perkusi
Bradie Speller: conga, perkusi

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
WhatsApp Perlu bantuan?