Review

Bobby McFerrin – VOCAbuLarieS

Album: VOCAbuLarieS
Label: EmArcy, 2010

1. Baby
2. Say Ladeo
3. Wailers
4. Messages
5. The Garden
6. He Ran to the Train
7. Brief Eternity

Bobby McFerrin - VOCAbuLarieS
Bobby McFerrin - VOCAbuLarieS

Kalau hanya mengenal Bobby McFerrin lewat hit “Don’t Worry, Be Happy,” itu menandakan sebuah kesia-siaan. Betapa tidak? Bobby ialah seorang musisi idiosinkratik dengan rekam jejak karya begitu ekstensif, melibas batasan genre – jazz, pop, musik klasik, soul, R&B, blues, world music, bahkan musik zonder kategori – semua itu tersaji tanpa pretensi.

Sebagai seniman vokal, Bobby punya jangkauan suara luas; dengan mudah beralih falsetto hingga register bawah yang memberi efek fonik plural, adaptasi perkusif lewat anggota tubuh, serta kemampuan untuk bernyanyi multifonik memanipulasi resonansi pada rongga mulut. Singkatnya, Bobby McFerrin seorang diri seperti sebuah orkestra, di mana orkestra tersebut adalah Bobby! Lebih lanjut ia menggagas Voicestra, berisi selusin vokalis dengan acuan jazz, R&B, sampai opera klasik India.

VOCAbuLarieS adalah proyek ambisius Bobby untuk merayakan seni vokal dari penjuru dunia secara kaleidoskopik, menyertakan lebih dari 50 seniman vokal terbaik dengan eksperimentasi menakjubkan, salah satunya menggarap koor virtual terdiri atas 1.400 trek vokal! Di samping itu, prosesnya memakan waktu sekurangnya tujuh tahun.

Peran besar diambil pula oleh Roger Treece, selain menjadi tenor dan bas di album ini, ia pun sebagai produser serta penanggung jawab engineering dan mixing. Di antara ke-50 seniman vokal yang berpartisipasi, termasuk Voicestra, turut menyumbang suara ialah penyanyi R&B Lisa Fischer, Luciana Souza dari Brasil, Janis Siegel (Manhattan Transfer), serta ansambel vokal New York Voices.

Memuat tujuh trek orisinil, lintasnya bukan hanya genre, namun meliputi benua, bahasa, dan tradisi. Dimulai dengan aransemen ulang nomor lawas “Baby,” terambil dari album Bobby Medicine Man di tahun 1990. Simak interaksi vokal yang mengaggumkan, baik a capella, siulan, pula kompleksitas tekstur dan harmoni juga dipermanis oleh tepukan bongo Alex Acuña.

Nuansa musik Afrika terasa pekat di komposisi “The Wailers,” kemudian beralih atmosfer landscapic Timur Tengah dan India, teraksen tiupan instrumen duduk oleh Pedro Eustache. Namun mahakarya album ini adalah komposisi “Messages,” dengan lirik trans-lingua; Latin, Ibrani, Sansakerta, Mandarin, Arab, Eropa, sebut saja! Bagaimanapun, bahasa hanya sekedar sarana pendukung, sebab elemen utamanya adalah bunyi. Pedro dan Alex kembali beraksi, kali ini ditambah tiupan saksofon Don McCaslin.

Kemeriahan dan semangat mewarnai gubahan “He Ran to the Train” yang energik dan masif, sebelum ditutup oleh konklusi simfonik “Brief Eternity.” Untuk nomor penuntas tersebut, strukturnya merupakan reminisensi Gregorian chanting, sekaligus berkesan impresionis, dengan aneka instrumen tiup kayu oleh Pedro sebagai antifonal.

Mengutip liner notes Bobby;

“what a wondrous assembly of voices is this
the resulting effect nothing short of bliss
a special thank you to Roger for writing so rare
and Linda who kept us from vanishing into thin air.

and to God of course,
without Whose favor we would veer off course.”

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker