Review

Pat Metheny Unity Group: KIN (←→)

“KIN (←→)” adalah kata yang sekonsep dengan “unity” dalam hal ide koeksistensi hidup di bawah langit yang sama. Lalu ada tambahan dua panah yang menyimbolkan arti kata ini: garis keturunan. Penuh sasmita (atau bahasa kerennya: semiotik), judul album Pat Metheny di 2014 yang dirilis Nonesuch ini sedalam cerita di baliknya.

***

Metheny menyadari dari hampir 40 tahun profesionalnya, belum pernah lagi secara khusus memimpin format horn sebagaimana “80/81” (ECM, 1980) merepresentasikan band dengan dua saksofonis: Michael Brecker dan Dewey Redman. Jika Unity Band” (Nonesuch, 2012) adalah tempatnya dan 30 tahun lewat adalah waktunya, maka bisa jadi ia memang menanti Chris Potter untuk jadi orangnya. Bakat yang sudah terdeteksi radar Metheny untuk waktu lama itu akhirnya berkumpul dengan sesama finalis kompetisi Institut Jazz Thelonious Monk dari periode yang jauh berbeda, pembetot bas Ben Williams. Ratusan set dan tur intensif lantas membuahkan kohesi baru Pat Metheny Unity Group (PMUG) yang disebutnya sebagai versi full color dari kuartet Unity, sekaligus memberi jawaban atas pertanyaan nasib Pat Metheny Group (PMG) yang tak terdengar lagi.

Pat-Metheny-Unity-Group-KIN2.gif
Animasi cover art KIN (←→) (http://www.patmetheny.com/)

Maka PMUG bukan kuartet akustik dan mendekati PMG dalam hal kesetaraan improvisasi vs komposisi sebagai kendaraan narasi cerita. Ia juga merekam kelanjutan orchestrionic, lompatan lain Metheny dalam hal instrumen kontemporer yang memungkinkan orkestrasi sintetiknya sebagai one-man band. Akan tetapi, ada peran personil ke lima yang mengembalikan peran nama-nama multi-instrumentalis yang pernah bergabung dengan PMG, sehingga lengkaplah orkestrasi sintetik dan orkestrasi organik bertemu dalam struktur PMUG. Giulio Carmassi adalah nyawa orkestrasi itu, meniup terompet, French horn, flute, alto sax atau memainkan vibrafon di satu waktu, hingga bersiul dan bernyanyi di waktu lain.

***

On Day One” adalah nomer tangguh yang menjajal nalar musikal semua personil tanpa memperlihatkannya sebagai hasil akhir yang sulit. Poliritme menarik memperkenalkan struktur lagu dan di tengahnya hadir tempo rubato yang mengajak kita pindah dari satu bagian ke bagian lain yang diulang sebagai komposisi. “Rise Up” yang menyusul ke dua tak kalah ambisius. Nomer yang menonjolkan kocokan gitar cepat ala flamenco dalam intro panjang, berteman pukulan cajon, lengkap dengan aksen tepuk tangan ini justru secara melodi jadi pernyataan, bahwa album ini dibuat untuk hembus panjang saksofon, sesuatu yang tidak bunyi di gitar. Saksofon sopran Potter-lah petunjuk melodi itu.

Gitar akustik senar logam muncul di ballad singkat “Adagia” mempertahankan kekhasan Pat Metheny yang asal daerahnya punya tradisi country. “Born” mempertegas kesan samar itu diiringi olahan stik brush Antonio Sanchez. Sanchez yang paling lama bersama Metheny di grup ini–di luar produser Steve Rodby–bermain simbal rapat pada “Kin” sekaligus diberi kesempatan menutupnya dengan kelebat solo. Yang paling baru dari musik Metheny adalah munculnya RnB pada “We Go On“, lagu yang lama didiamkannya hingga dapatkan formasi yang pas untuk merekamnya lengkap dengan bunyi bender kibor yang dimainkan Carmassi. Potter pun tak ragu berpartisipasi meniupkan romantisme Motown ke atasnya.

Pat Metheny punya misi untuk mempertanyakan dan mencoba pergi ke wilayah yang belum pernah dijelajahi orang sebelumnya. Vokal tanpa kata-kata bermakna yang kini banyak dilakukan orang adalah sesuatu yang mulai agak dihindarinya di album ini, jadi jangan harapkan nostalgia PMG murni. Namun, kontur melodi yang bisa disenandungkan adalah obat rindu yang setia hadir bagi penggemar lama.

Daftar lagu “KIN (←→)” (Nonesuch, 2012):
1. “On Day One”
2. “Rise Up”
3. “Adagia”
4. “Sign of the Season”
5. “Kin”
6. “Born”
7. “Genealogy”
8. “We Go On”
9. “KQU”

***

Pat Metheny Unity Group melanjutkan album ini dengan tur live “Kin (←→)” yang di antaranya menyambangi Mosaic Music Series 2014 di Esplanade—Theatres on the Bay—Singapura pada tanggal 27 Oktober 2014 (baca beritanya di sini).

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker