Review

Richard Bona – Bonafied

Album: Bonafied
Label: Universal Music France, 2013

01. Dunia E
02. Mut’Esukudu
03. Akwappella
04. Janjo La Maya
05. Mulema
06. Uprising of Kindness
07. Tumba La Nyama
08. Diba La Bobe
09. La fille d’a côté
10. Socopao
11. On the 4th of July

Richard Bona - Bonafied
Richard Bona – Bonafied

Seniman musik asal Kamerun, Richard Bona, merupakan musisi yang serba bisa. Selain bas elektrik yang menjadi instrumen andalan, ia pun mahir memainkan banyak alat musik lain, termasuk bernyanyi. Tak hanya memiliki kepekaan musikal dengan preferensi luas, Richard pula ahli dalam bernarasi lewat karya-karyanya.

Pada album Bonafied ini, Richard mendedikasikan kepada sang Kakek yang juga dianggap sebagai mentornya. “Bahkan ketika saya masih berumur tiga tahun, Kakek telah melihat saya sebagai seorang musisi dan ia membuatkan alat musik pertama untuk saya,” terang Richard. Ia meneruskan, “Di samping Kakek, (album) ini juga untuk ibu, saya yang nomor satu saya,” tutupnya. Richard memang berasal dari keluarga yang sangat mengapresiasi musik, dan pengalaman itulah yang ia terus ia kembangkan hingga kini.

Sebanyak 11 trek tercantum di dalamnya memberikan pengalaman dengar yang begitu unik, melintasi batasan bahasa juga budaya yang dikemas oleh tutur bunyi khas Richard Bona. Hal tersebut dapat dengan mudah dirasakan sejak latunan suara Richard atas pembuka “Dunia E,” pun ia bermain gitar, bas dan perkusi, teriring sayatan cello dan piano. Spektrum bunyi lebih luas terdengar pada balada “Mut’Esukudu” dengan acuan jazz latin serta progresi akor serupa tembang Panama “Historia de un amor.”

Berlirik frankofon, “La fille d’a côté” tampilkan duet Richard dengan Camille Dalmais berbalut denting balafon dan petikan gitar folklorik. Sensualitas tango secara perlahan memenuhi ruang dengar dalam “Janjo La Maya,” ditegaskan pula oleh sengau akordeon Vincent Perrani yang kenes. Di nomor yang menitikberatkan pada tarik suara, “Akwappella” dan“Tumba La Nyama,” Richard suguhkan harmonisasi vokal yang sederhana namun pulen, ditambah ornamen body percussion sebagai pelengkap.

Penuh dialog antar instrumen, trek “Uprising of Kindness” juga menyampaikan pesan simpatik sedangkan “Socopao” kental sekali bernuansa Afrika lewat iramanya, sebelum menuju nomor penuntas “On the 4th of July.” Nikmati permainan bas empatik Richard yang bercengkrama dengan jentik gitar Sylvain Luc, menjalin percakapan santun antar keduanya serta hasilkan hembusan angin sejuk yang melegakan.

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker