Review

Oran Etkin – Gathering Light

Album: Gathering Light
Label: Motéma Music, 2014

01. Gambang Suling
02. Taxi Dance
03. Shirim Ad Kan
04. Gratitude
05. Takeda (Homesick Blues)
06. All I Really Want To Do is Dance!
07. Scattering Light
08. Tony’s Dance
09. Der Gasn Nign (Street Song)
10. Distant Sounds of Change
11. Guangzhou Taxi
12. When It’s Sleepy Time Down South

Oran Etkin - Gathering Light
Oran Etkin – Gathering Light

Menyimak Gathering Light ini, sebagai rilis paling mutakhir klarinetis prominen bernama Oran Etkin, terasa seperti berkeliling dunia. Pasalnya, deretan nomor di album tersebut sungguh merayakan ragam budaya musik yang multi-kultural, lintasi tanah Pasundan hingga Yerusalem lewat garapan bunyi segar, penuh spontanitas dan kaya warna.

Album ini meneruskan rekam jejak Oran, berawal Kelenia dan Wake Up Clarinet! (Motéma Music, 2009, 2010), di mana Kelenia berupa inkorporasi jazz dengan musik tradisi Mali. Selain itu, Gathering Light juga merupakan catatan bunyi atas tur dunia Oran, melintasi banyak negara seperti Indonesia, Israel, Cina, Jepang, Perancis, Belgia, Jerman dan tentunya Amerika Serikat.

Daftar pemainnya diisi oleh sejumlah nama antara lain kontrabasis Ben Allison dan drummer Nasheet Waits, gitaris Lionel Loueke serta Curtis Fowlkes selaku peniup trombon, sedangkan Oran meniup klarinet, klarinet bas dan saksofon tenor.

Awal perjalanan adalah sebuah adaptasi “Gambang Suling” gubahan seorang empu dalang, Ki Nartosabdo. Singkat cerita, nomor ini merupakan bentuk sanjungan kepada para pemusik tradisional Indonesia yang pernah berkolaborasi dengan Oran saat ia menggelar serangkaian konser di Indonesia, dan berkesempatan untuk bersentuhan langsung dengan gambang, suling, angklung dan kendang. Melodi utama dimainkan pada klarinet bas, pula kentara sekali acuan ritmik dan timbre kendang lewat paduan unik kontrabas dan drum yang rekat.

Nuansa Oriental tampak dalam refleksi “Takeda (Homesick Blues),” “Taxi Dance” juga “Guangzhou Taxi” yang suguhkan interplay memukau kelima pemain. Ada pula referensi klezmer amat kental pada “Shirim Ad Kan” dan “Der Gasn Nign (Street Song)” yang mungkin Oran peroleh dari salah satu mentornya, David Krakauer.

Nomor “Gratitude” tampak jelas mendapat pengaruh dari bebunyian khas Afrika, sedangkan “Scattering Light” suguhkan interaksi Oran (beralih saksofon tenor) dengan petikan gitar Lionel Loueke yang distingtif. Menuju “Tony’s Dance,” bukaan iramanya ingatkan pada sound angular Thelonious Monk, lalu merambah teritori improvisasi bebas penuh tensi dan kejutan sekaligus pamerkan versatilitas klarinet Oran.

Ibarat sebuah epilog, “When It’s Sleepy Time Down South” melantun begitu sensitif, seraya mencuplik head “Gambang Suling” yang antarkan pada tema utama melodi signature Louis Armstrong tersebut. Pun, seperti diakui Oran, Louis ialah figur panutan yang menginspirasi kecintaannya pada musik, dan tidaklah berlebihan jika di masa depan Oran Etkin dapat mengikuti jejak sang idola: dengan menjadi salah satu duta besar jazz untuk dunia.

Tags

Thomas Y. Anggoro

Lulusan ISI Yogyakarta. Telah meliput festival di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker