Duet Menantang: DJ & Saxophone
Sekitar 15 tahun lalu, saya jalan – jalan di kota Bandung. Meskipun ke Kota Kembang dalam sebuah urusan pekerjaan, namun tetap saja sebagai seorang yang senang memenuhi kamarnya dengan koleksi – koleksi album musik jazz, sudah menjadi kewajiban untuk menyambangi beberapa “point of interest” seperti beberapa toko kaset / CD baru maupun bekas. Setelah beberapa saat menyisir satu per satu judul CD dan kaset, tiba mata tertuju kepada sebuah CD bekas yang berjudul “October Meetings: Improvised Music 1987”. Sebenarnya album tersebut adalah album kompilasi rekaman konser dari acara rutin tahunan untuk musik improvisasi di Amsterdam, Belanda. Edisi tersebut berisi penampilan Gus Janssen, Walter Wierbos, Misha Mengelberg, Marc Dresser dan John Zorn. Kemudian ada satu kolaberasi yang bagi saya waktu itu cukup mengagetkan, yaitu Christian Marcley (DJ) dan Louis Sclavis (saxophone & klarinet). Durasi satu komposisi itu sendiri hampir 30 menit.
Pengalaman mendengarkan tersebut terulang kembali ketika menyaksikan DJ Nino bersama Chika Asamoto (sopran saxophone) di panggung Orion Jak Jazz 2008 di hari kedua (29/11). Konteknya memang sedikit berbeda. Penampilan duet antara Marcley dan Sclavis lebih mengacu ke dalam framework gaya free jazz. Sedangkan DJ Nino dan Asamoto lebih mengacu ke dalam gaya yang sedang ngetrend saat ini, nu-jazz. Meskipun spirit keduanya ada pertalian benang merahnya.
Dalam kondisi badan yang sudah sedikit kelelahan, saya mencoba untuk menikmati penampilan mereka berdua. Komposisi pembuka hanya ada DJ Nino saja yang bagi saya belum terasa menariknya. Sedikit mengingatkan kita kepada trend clubbing yang melanda kawula muda saat ini. Namun setelah komposisi kedua, Chika Asamoto naik panggung dan langsung beraksi dengan musik yang disajikan oleh DJ Nino. Herannya, nuansa langsung berubah. Ada sedikit nuansa ambient dan electro-psycodelic. Nuansa musik popnya juga cukup menonjol. Ternyata warna musik tersebut memberikan efek relaksasi sehingga badan yang sudah lumayan lelah itu bisa sedikit segar kembali.
Improvisasi dalam hal ini mungkin ada reaksi calls and responds secara spontan dengan cara masing – masing musisi. Tetapi yang lebih jelas peran DJ di sini adalah memberikan layer untuk improvisasi saxophone. Sang DJ sudah mempunyai pattern musiknya dan kemudian dimix dengan pattern musik lainnya. Kemudian dengan sopran saxophonenya Asamoto membangun melodi dan berimprovisasi atas corak musik yang dilemparkan oleh DJ Nino. Begitu juga sebaliknya. Hal ini memang menjadi tantangan musik jazz dalam mengakomodasi perkembangan musik di kemudian hari.
Namun sayangnya Asamoto hanya tampil dalam beberapa komposisi. Karena setelah Asamoto mundur dari panggung, DJ Nino seperti kembali ke “habitatnya” semula, seperti berada dalam diskotik pada umumnya pada saat ini.




memang gw acungin jempol tuk mrk ber 2 & penampilannnya bikin gw bergoyang badan serta angguk angguk kepala, sip lah .
DJ Nino seperti kembali ke “habitatnya” semula, seperti berada dalam diskotik pada umumnya pada saat ini. BENAR SEKALI makanya saya angguk2 kepala… oke Bung Ceto… salam dari Samarinda.