News

BUBI, IRENG, MARGIE MENCOBA MENGEMBALIKAN ELAN JAZZ DI SURABAYA

BUBI, IRENG, MARGIE MENCOBA MENGEMBALIKAN ELAN JAZZ DI SURABAYA

Di tengah guyuran hujan lebat, dua maestro jazz Indonesia, Ireng Maulana dan Bubi Chen, tampil memukau di Balai Pemuda Surabaya, Jumat (19/12/2003) malam. Diperkuat Margie Segers, vokalis jazz senior, pergelaran langka ini menjadi semacam konser retrospeksi.

Kita diingatkan bahwa dulu, di era 1960-an hingga 1970-an, Surabaya pernah menjadi barometer musik jazz di tanah air. Bahwa musikus jazz papan atas kita–mulai Bubi Chen, Ireng Maulana, Jack Lesmana, Maryono, Embong Raharjo, dan sederet nama besar lain–pernah mewarnai musik jazz di Indonesia. Dan, Balai Pemuda alias Simpangsche Societeit menjadi saksi bisu.

“Kalau bicara jazz di Indonesia, Surabaya ini nggak ada duanya deh. Paling yang bisa mengimbangi hanya Bandung,” ujar Margie Segers, vokalis senior yang malam itu masih terlihat segar dan energik. Margie sendiri mengaku belajar jazz di Surabaya pada 1972, ya, lewat sang mahaguru, Bubi Chen.

Didampingi Virtuoso Band–Bubi Chen (piano, keyboard), Ho Wie Chen (perkusi), Toto Alfian (bas), Benny Chen (drum)–Ireng Maulana sangat santai, menyapa para jazz lovers layaknya sahabat. Jauh berbeda dengan bintang-bintang pop masa kini yang suka aneh-aneh dan cendereung mengambil jarak dengan audiens. “Yo, opo kabare, Rek. Mudah-mudahan konser semacam ini bisa jalan terus,” ujar sang gitaris yang membuka konser dengan sebuah nomor vokal. Di luar dugaan, suara Ireng Maulana tidak mengecewakan.

Dari sini, Ireng dan Om Bubi mempertontonkan ketrampilan musik tingkat tinggi lewat sejumlah nomor instrumental. Ireng, yang mengenakan kaus ireng, bolak-balik ‘menantang’ Om Bubi dengan melodi-melodi aneh dan rumit. Bubi seperti membiarkan Ireng beraksi sampai bosan, kemudian dibalas kontan dengan solo piano (elektrik) yang tak kalah dahsyatnya. Penonton berkali-kali memberikan aplaus meriah. Saat Tante Margie menyanyi, Bubi Chen dan Ireng Maulana tetap menonjol permainannya. Margie pun berusaha mengimbangi permainan dua maestro dengan vokalnya khasnya yang ‘tebal’dan memang sangat ‘ngejes’ itu.

Suasana kian riuh ketika Margie mengoplos dua lagu pop terkenal My Way (Frank Sinatra) dan Yesterday (The Beatles). Margie sengaja bernyanyi secara slow sehingga tercipta cukup ruang bagi Ireng dan Bubi–bersama Virtuoso–untuk improvisasi. Gedung Balai Pemuda serasa mau pecah ketika Ireng menggoda sekitar 500 pecinta jazz Surabaya dengan sebuah nomor Latin, yang di sini dikenal dengan ‘Kopi Dangdut’. Penonton pun ikut melantukan syair ‘Kopi Dangdut’, keras-keras. “Lagu ini aslinya dari luar, iramanya memang bagus. Cuma, orang di sini tahunya Kopi Dangdut,” jelas Ireng Maulana, yang aktif menjadi konduktor pada Berpacu dalam Melodi di Metro TV itu. Kali ini, Ireng Maulana mengganti gitarnya dengan banjo, instrumen khas para koboi di Amerika.

“Ada sebuah lagu legendaris dari Panbers. Gereja Tua,” ucap Ireng disambut heboh suara penonton. Melodi lagu melankolis ciptaan Benny Panjaitan ini sengaja dibuat ‘keseleo’ oleh Ireng. (Namanya juga jazz, Saudara!) Ketika penoton masih bengong, Ireng mengajak hadirin menikmati ‘Cucakrowo’, lagu dangdut modifikasi yang sangat populer saat ini. Konser ditutup dengan vokal Margie Siegers membawakan When The Saint Marching In.

Baik Ireng Maulana maupun Margie Segers mengaku sangat terkesan dengan konser jazz, yang turut didukung oleh harian Radar Surabaya itu. Menurut Ireng, konser semacam ini perlu dilakukan secara kontinyu demi mengembalikan citra Surabaya sebagai barometer dan gudangnya pemusik jazz di Indonesia. “Jangan lupa, kalian di sini punya Bubi Chen, the living legend,” ujar Ireng seraya berpelukan dengan Bubi Chen, pemusik jazz terkemuka kita.

Mengenang masa lalu, Ireng mengatakan bahwa para pemusik jazz di Surabaya gandrung setengah mati akan jazz. Mereka bermusik tanpa memperhitungkan bayaran. Ada atau tidak ada uang, mereka main. “Karena jazz itu hidup kita. Kita tidak bisa hidup tanpa jazz,” ujar Ireng seraya tertawa kecil. “Sampai kapan pun jazz tidak akan mati,” tambah Margie Segers, yang sempat melantunkan lagu ‘Semua Bisa Bilang’, permintaan penonton di meja 29. (Hurek Lambertus/*/WartaJazz.com)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker